October 5, 2022

Just Do It

literaturcorner.com – Selama itu baik dan benar, Just Do It…Selama itu salah dan tidak bermanfaat, Stop…
Menolak untuk pasrah …!!

Kita diajari untuk optimis pada sebuah proses bukan pada hasil akhir, memang semuanya tidak ada yang namanya ‘instan’. Terkadang kita yang merasa taksa pada sebuah proses itu sendiri.

Esensi salah kehidupan kita, tidak cuma berbicara tentang sebuah proses saja, melainkan mentransfer knowledge.
Menjadikan sebuah kepercayaan bahwa sebuah proses belajar yang benar akan mendapatkan hasil yang benar, begitupun sebaliknya.

Di samping itu, keberkahan dari sosok guru tidak akan lepas dari jejak memori sebuah proses, dimana yang selalu membuat kita akan berbuah itu ada. Dengan keberkahannya, semoga kita semua bisa menjemputnya kelak. Amin..

Berpikir positif menjadi pijakan utama kita untuk mencapai sebuah kesuksesan, semoga kita semua menjadi orang yang bisa menyeorangkan orang. Amin

Benar apa yang dikatakan oleh Gus Dur “Menyesali nasib tidak akan mengubah keadaan. Terus berkarya dan bekerjalah yang membuat kita berharga.”

Menyesal adalah tindakan yang sia-sia. Separah apapun penyesalan kita, yang sudah terjadi tidak akan bisa diulang untuk kita perbaiki. Lebih baik terima saja masa lalu, lalu belajar darinya bahwa penyesalan itu ada diakhir. Itulah yang akan membuatmu menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Hal yang baru sering membuat kita untuk lebih menganalisis, bahwa kenyamanan ada di tengah-tengah. Teman baru yang membuat pengetahuan kita bertambah. Makanya banyak orang yang bilang “banyak teman, banyak rezeki” heheheh.
Tempat yang baru membuat kita lebih terbuka bahwa dunia luar lebih indah dari yang kita pikirkan. Belajar bersama membuat kita lebih nyaman dengan kejutan-kejutan yang tidak pernah kita bayangkan. Canda tawa, keseriusan selalu hadir di tengah-tengah.

Mr Bee, beliau ini adalah salah satu teacher saya, pernah bilang, “selama itu baik dan benar, Just Do It…
Selama itu salah dan tidak bermanfaat, Stop”. Dengan begitu lakukan sesuai naluri yang bisa memmbuat kemanfaatan bagi orang lain. Laksanakanlah. Tapi, belum tentu yang menurut kita benar, akan dipandang benar bagi orang lain. Cermin hidup kita ada di dalam diri orang lain bukan dalam diri sendiri. Seringlah Berkaca pada orang lain, demi memperbaiki kepribadian.

Cobalah untuk percaya, bahwa “hasil dari sebuah usaha & doa, akan mengantarkan kita pada perubahan yang nyata”. Di mana aku, kamu tidaklah mungkin mengaharapakan pada yang instan.
Mie rebus saja, yang dibungkusnya sudah ada tata cara untuk merebusnya. Tapi, masih banyak yang tidak sesuai dengan tata cara untuk merebusnya.

Memang manusia biasa tidak akan lepas dari sebuah konsep yang membuat jiwa intelektual kita berubah seketika. Semangat hidup, demi meraih kemenangan tidaklah mudah. Dengan begitu kita sendiri akan dituntut untuk selalu berusaha, berusaha, berusaha dan berdoa.

Saat kau menemukan sebuah batu di jalan, yang lemah akan menganggap itu sebagai hambatan.
Namun yang kuat akan menganggap itu sebagai dorongan. Tapi semuanya itu kau anggap hal yg biasa makanya kau selalu cuek dengan hal yang tidak pasti.

Bersyukurlah apa yang sudah kau kerjakan sekarang, bukan cuma bersyukur apa yang sudah kamu dapat, lalu kau tinggalkan begitu saja.

Setiap jiwa kita mempunyai kadar waktu sendiri untuk mencapai kesuksesaan. Jangan terlalu khawatir pada waktu. Kapan kita akan sukses? Kapan kita akan mencapai hasil dari sebuah usaha kita selama ini?
Tugasmu adalah berusaha. Allah yang akan menghendaki bagaimana baiknya.

Jangan takut pada sebuah hasil. Tapi, cukup takutlah pada sebuah kemanfaatan. Artinya, sama saja kita berhasil tapi tidak mengaplikasikan ilmu kita kepada orang yang lebih membutuhkan.

ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah

Dengan catatan! Kemanfaatan, keberkahan tidak akan lepas dari seorang guru. Belajar untuk memberi sedikit lebih baik dari pada tidak memberi sama sekali.

Dan yang terakhir, maafkan Khabib yang selalu membuat ruang kelas selalu ramai dengan canda tawa bukan dengan keseriusan, yang membuat keramaian bukan keheningan.

“A man without ambitions is like a bird without wing”
Mari kita mengejar cita-cita kita dengan tenang dan keseriusan.