December 8, 2022

Cuma Jiraiya yang Pantas Disebut Guru

Yang jelas Jiraiya tidak menjadi guru karena keadaan apalagi paksaan. Menjadi guru adalah panggilan jiwa.

Tulisan ini hanya untuk orang-orang yang tidak sengaja menemukan video potongan anime Naruto ketika scroll-scroll gabut di video Tiktok. Mereka ini adalah spesies manusia yang tidak akan pernah move on dengan nilai-nilai, paradigma, dan ideologi dalam serial Naruto itu. Keinginan kuat mereka untuk memahami semua dialog-dialog anime tersebut biasanya mulai kuat saat mereka tahu realitas kehidupan di dunia ini.

Jikalau sekiranya ada orang membaca tulisan ini yang dari dulu tidak pernah sreg dengan Naruto maupun anime lainnya, sudah bisa ditebak sih komentarnya, “kebanyakan nonton kartun, lu.” Saya tidak peduli sih komentar tidak berbobot mereka. Tidak ada yang salah soal komentar-mengomentari ini, baik atau buruk anime adalah perkara subjektif. Namun, sangat disayangkan aja, komentar ketidaksukaan mereka diliputi kebencian yang tidak berdasar. Sebelum kita melabeli kebencian dengan label baik atau buruk, kebencian tetaplah kebencian; ia tumbuh dari penyangkalan-penyangkalan. Kebencian tidak selalu buruk, begitu juga dengan rasa cinta yang tidak selalu baik. Dahlah

Hari ini adalah momen untuk merayakan guru-guru di Indonesia. Dilihat dari historisnya, tanggal berdirinya organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dijadikan sebagai landasan penetapan hari guru nasional pada tanggal 25 November melalui Kepres No 78 tahun 1994.

Pertanyaan besarnya, apa itu guru? Siapa dia? Kenapa guru harus dirayakan?

Jujur, saya sangat tidak puas sekali dengan pengertian guru menurut KBBI, bahwa guru adalah orang yang mata pencahariannya/profesinya adalah mengajar. Gitu doang. Pengertian semacam ini sudah menghilangkan makna peran, fungsi dan nilainya di tengah masyarakat. Kalau kiranya seperti itu, bilang aja pengajar enggak usah guru, sama seperti pengusaha, pengrajin, dan profesi lainnya.

Selain itu, guru menurut bahasa sanskerta berasal dari dua suku kata yakni Gu (kegelapan) dan Ru (cahaya). Secara harfiah, guru adalah orang yang menunjukkan cahaya terang dan memusnahkan kegelapan.

Pengertian guru secara harfiah tersebut kayaknya kurang tepat karena terdapat kata ‘menunjukkan’ yang berarti bahwa guru seolah-olah memaksa orang yang ditunjukinya (dalam hal ini katakanlah muridnya) untuk melihat cahaya menurut dia. Sedangkan guru secara tidak langsung ingin muridnya menganggap bahwa itu adalah cahaya sebagaimana ia menganggapnya.

Dalam proses pendidikan, guru sebaiknya menuntun saja si murid tanpa harus ikut campur soal penilaiannya akan suatu objek atau variabel yang sifatnya subjektif. Biarkan saja murid mendefinisikan dan menemukan sendiri apa itu cahaya melalui proses historis, emosional, dan spiritual yang mendalam.

Penilaian dan pendefinisan yang diajarkan seorang guru atas segala hal subjektif dapat membuat murid kehilangan kemurnian berpikirnya apalagi disampaikan secara terus-menerus hingga melekat di otak. Akibatnya, murid menjalankan isi kepala si guru dan bukan dirinya sendiri. Ia telah kehilangan kemurniannya sebagai manusia yang utuh, tidak menerima perspektif baru kecuali ajaran gurunya, kemudian menjadi fanatik hingga dengan perlahan kebencian terlahir.

Proses pendidikan seperti ini hanya akan membuat dunia penuh dengan kebencian dimana manusia-manusianya sudah tidak manusiawi. Ki Hajar Dewantara melalui konsep pendidikan yang ditawarkannya sudah tepat dan manusiawi, bahwa pendidikan itu adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Contoh penerapan konsep pendidikan Ki Hajar ini dapat kita lihat pada sosok Jiraiya dalam serial anime Naruto. Ia adalah guru dari Naruto dan ayahnya Minato Namikaze. Berbeda dengan pengajar (sensei) pada sekolah akademik, Jiraiya tidak ingin menjadi guru di sebuah lembaga akademik. Dilihat dari kisahnya, Jiraiya menjadi guru karena ada panggilan jiwa dalam hatinya dan tidak sembarangan memilih murid. Ia seakan tahu mana yang memiliki potensi dan sungguh-sungguh untuk belajar.

Proses belajar mengajar ala Jiraiya atau naruto sering memanggilnya dengan nama Petapa Genit ini dibuat seru dan menyenangkan. Proses pembelajarannya santai dan tidak kaku bahkan sampai keduanya tidak memiliki jarak. Saling mengejek satu sama lain. Lagi pula Jiraiya tidak pernah menginginkan dirinya dihormati oleh naruto, ia membiarkan naruto kebebasan untuk menentukan layak dan tidak layaknya Jiraiya dihormati. Saat becanda ya becanda dan saat belajar ya belajar.

Jiraiya adalah sosok guru yang biasa aja dikritik muridnya dan tidak pernah tersinggung ala baperan. Dibawa becanda aja tuh. Pertanyaan muridnya yang bersifat teknis selalu ia jawab dengan serius. Sedangkan pertanyaan perkara subjektif, Jiraiya meminta naruto untuk mencari jawabannya sendiri.

Yang jelas Jiraiya tidak menjadi guru karena keadaan apalagi paksaan. Menjadi guru adalah panggilan jiwa.

Kalau seandainya guru yang sebenarnya itu seperti Jiraiya; tanpa ada keinginan untuk dipanggil guru, dibayar, diberi penghargaan, atau pujian, kayaknya sih perayaan hari guru tuh sebenarnya enggak perlu. Kalaupun tujuan dari perayaan adalah cuma mengenang jasanya ya seakan-akan guru tidak dihargai. Guru bukan untuk dikenang, ia hidup dalam setiap detakan jantung muridnya. Sedangkan mengenang artinya kita memberi peluang seluas-luasnya untuk melupakannya.