July 23, 2024

PEMILU 2024 CUKUP DUA PASANGAN

literaturcorner.com Hiruk-pikuk pemberitaan tentang para bakal calon presiden menggema dan menggelegar dimana-mana. Dari tongkrongan ke tongkrongan, dari tempat kopi ke tempat kopi, bahkan dari pos ronda ke pos ronda. Tentunya membincang mengenai siapa dukung siapa. Memang agak mumet karna saling ego dalam memenangkan jagoannya. Tapi ya beginilah konsekuensi sebagai warga negara demokrasi.

Walaupun memang katanya demokrasi kita kebablasan tidak seperti apa yang dicita-citakan oleh para pejuang reformasi. Definisi demokrasi kita sekarang semakin meluas seakan-akan melegitimasi kita untuk boleh menyerang dan menjelek-jelekan seseorang. Membolahkan kita menebar kebencian. Membolehkan kita untuk berkata apa saja diluar dari kooridor kebaikan.

Tapi ya begitulah. Demokrasi kebablasan ini menjadi hadiah karena ketidaksiapannya dalam menghadapi demokrasi. Dan saya yakin, kita semua bisa melewati fase ini.

Telah diketahui bersama oleh kita semua bahwa ada tiga koalisi besar yang hari ini berkembang dalam konstalasi pemilu 2024 yang akan mendatang. Pertama ada Partai Gerindra dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang mengusung Prabowo Subianto sebagai Bakal calon Presiden. Kedua ada Koalisi Perubahan yang diantaranya Partai Nasional Demokrasi (NasDem), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrat yang mengusung Anies Baswedan sebagai Bakal calon Presiden. Dan yang terakhir ada Partadi Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDID) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang mengusung Ganjar Pranowo sebagai bakal calon Presiden.

Dari ketiga koalisi besar tersebut tentunya ada beberapa partai yang belum masuk koalisi. Dan semuanya tergantung lobby-lobby antar koalisi dari koalisi. Akan tetapi yang perlu diketahi bahwa tiga koalisi ini bisa masing-masing mengusung bakal calon presiden dan wakil presidennya. Apalagi pemilu yang akan datang ini menjadi ruang bebas para kontestan untuk mendapatkan kursi kekuasaan. Oleh karena itu ada kemungkinan kandidat calon presiden dan wakil presiden 2024 nanti akan muncul tiga pasangan, bahkan jika melihat isu yang berkembang bisa sampai empat pasangan.

Dalam hal ini saya hanya ingin menyampaikan bahwa bakal calon kandidat presiden dan wakil presiden ini lebih dari dua pasangan tentunya bagus untuk demokrasi. Tapi tidak untuk kesiapan kita semua. Jika pasangan bakal calon presiden dan wakil presiden 2024 nanto ada tiga atau empat pasangan, artinya akan dilakukan kembali putaran-putaran selanjutnya sampai pada titik kemengangan. Ujung-ujungnya ya tetep bakal dua pasang. Bagus memang secara demokrasi. Tapi bagaimana kesiapan kita sebagai masyarakat? Lalu bagaimana kesiapan kita secara politik? Bagaimana kesiapan kita secara anggaran? Dan banyak hal lainnya.

Bukan pesimis, tapi masyarakat kita kebanyakan melakukan politik transaksional. Karena memang para kontestan melakukan hal demikian. Mencoba menghasit masyarakat dengan uang. Bahkan hal ini sudah menjadi lumrah di lapangan.

Kemudian, pemilu 2014 yang lalu negara menghabiskan uang sebanyak Rp. 7,9 Triliun untuk menyelenggarakan pemilu. Kemudian anggaran tersebut naik menjadi Rp. 24,9 Triliun pada pemilu 2019. Itu hanya dua pasangan calon presiden dan wakil presiden. bagaimana nanti jika lebih dari dua pasangan? Anggaran bisa berkali-kali lipat hanya untuk sekedar menuntaskan pemilu saja. Belum lagi peristiwa pemilu 2019 yang lalu ada 894 petugas KPPS yang meninggal dunia karena kelelahan. Juga polarisasi politik yang akan terjadi nanti. Bagi saya ini sangat merepotkan.

Jika anggaran pilpres yang 24 Triliun itu dibagi kesetiap pelaku usaha kecil masing-masing satu juta, artinya akan ada 24 Juta masyarakat yang bisa kembali menghidupkan usahanya untuk menyekolahkan anak-anaknya, memberi makan terhadap keluarganya. Betul memang, secara demokrasi lebih dari 2 pasangan ini bagus, tapi tidak secara kebaikan.

Oleh : Teguh Pati Ajidarma (Tim Kaderisasi Nasional PB PMII, Presidium Nasional Perjuangan Rakyat Desa)