September 29, 2022

Bayangan Wayang King of the King dan Kerajaan Baru

literaturcorner.com – Ingin menanyakan pada pak RT/RW setempat mengenai pengertian lucu dan jenaka yang sebenarnya itu seperti apa?

Berkaca pada kejadian saat-saat ini yang lagi viral, perihal munculnya banyaknya kerajaan yang bisa dibilang sekadar informasi bagi masyarakat, sekadar ‘jokes’ belaka yang tidak ada lucu-lucunya sama sekali. Mungkin peningkatan kelucuan di zaman sekarang harus lebih berani lagi. Seperti munculnya kerajaan, mulai dari Sunda Empire dan Keraton Agung Sejagat, muncul King of The King. Menurut saya semata-mata hanya ingin diperhatikan oleh pemerintah setempat, biar tidak dicuekin terus. Hmmmm

Dalam acara salah satu stasiun TV, Anhar Gonggong selaku sejarawan menyatakan, identitas etnik dan identitas ke-Indonesiaan itu tidak bertentangan, sebab yang mendirikan Indonesia itu etnik-etnik tersebut dalam suatu proses setelah ada pendidikan sejak abad ke 20. Lantas siapa etnik itu? Ya raja-raja, pangeran-pangeran itulah yang mendirikan Indonesia, itulah yang menjadi pahlawan nasional.

Jadi, Indonesia ada karena etnik yang dulu memiliki kerjaaan-kerajaan lokal. Hilangnya kerajaan-kerajaan tersebut bisa dikatakan hilang bukan karena secara budaya, tapi karena memang Indonesia tidak mungkin mempunyai budaya tanpa tetap mengadakan budaya-budaya yang sudah dilahirkan oleh kerjaaan lokal tersebut. Itu yang harus kita pahami semua.

Dari pemahaman di atas sudah jelas mana yang perlu kita perhatikan kembali mengenai munculnya kerjaaan-kerajaan baru. Dan mari kita semua sebagai anak muda memiliki cara berpikir yangg berbeda dengan informasi-informasi seperti itu. Mencoba percaya saja pada ahlinya, pada yang lebih paham dari kita, pada dasarnya kita semua orang yang tidak tau apa-apa. Tapi ketika tau sedikit hal kita besar-besarkan yang jadinya menjadi ‘sok tahu‘.

Mengenai fenomena yang terjadi sekarang ini sudah menjadi pernyataan masyarakat agraris dalam arti ada sekelompok orang yang masih membayangkan pada saatnya akan ada ratu adil. Ini adalah sebuah proses pemikiran-pemikiran masyarakat agraris. Kalau seandainya saja ada ratu adil, terus apa untungnya bagi kita semuanya, apa kita bisa meminta 3 permintaan terus dikabulkan? Tidak, kan! Mungkin itu yang mereka ingin bangun “ratu adil” sekadar hanya untuk liburan di awal tahun saja.

Tapi, tidak ada lucu-lucunya sama sekali. Malah sebaliknya, menjadi boomerang bagi mereka sendiri atas apa yang telah dilakukan. Jika ada sebuah penganugerahan tentang kelucuan, sepertinya apa yang dibangun oleh asumsi mereka bisa dijadikan nominasi.

Biasanya hal baru yang muncul di publik sering membuat kita merasa aneh dan menghibur, contohnya saja yang sekarang terjadi ada penjual tahu goreng berparas menawan lulusan S-2 bisnis manajemen BINUS. Menurut kita itu aneh dan menghibur sekali. Dari pada munculnya kerajaan. Meskipun sampai kabar hari sudah ditetapkannya 3 petinggi Sunda Empire sebagai tersangka. Tapi, saya sendiri masih belum puas, sebab apa? Muncul lagi kerajaan baru yakni King of The King yang mengeklaim kuasai Rp 60.000 T dan akan lantik presiden di dunia.

Orang terdekat dari King of The King, yakni Pimpinan Ketua Umum IMD (Indonesia Mercusuar Dunia) Juanda, beliau mengatakan, kekayaan tersebut merupakan aset yang ditinggalkan Soekarno dan resmi diserahkan kepada King of The King. Bagaimana menurut kalian?

Kata yang tepat untuk mewakilinya adalah, “aneh sekali” dengan keanehan itulah ‘ojo dipiker nemen-nemen, nikmati wae‘ (jangan dipikirkan terlalu serius, nikmati saja). Dengan uang segitu banyaknya yang rencananya akan dibagikan ke rakyat dari Sabang sampai Merauke per kepala Rp 3 miliar. Mungkin dari mereka ada faktor sosiologis, atau bisa juga faktor ekonomi yang memengaruhi itu semuanya muncul. Tidak perlu dipikirkan terlalu serius, nikmati saja.

Sejalan dengan hal tersebut, Emha Ainun Nadjib pernah mengatakan, bahwa sejarah adalah deretan episode tentang siapa dalang siapa wayang, dan sejarah mencatat Ki Dalang menggenggam kaki tangan wayang-wayang untuk pada suatu hari dimasukkan dalam kotak.

Dengan munculnya berbagai macam kerajaan sekarang, mungkin nanti perlu raja dan ratunya dibuatkan wayang kulit yang menyerupainya, biar semakin dikenang oleh para pengikutnya, mungkin untuk awalnya bisa menghibur diri sendiri, lalu merambah untuk menghibur masyarakat setempat.

Sampai di sini, apakah otak kita sudah bisa membayangkan bentuk wayangnya seperti apa? Lumayan setiap tampil di panggung dapat angpau buat nambah-nambah tabungan yang awalnya 60.000 T bisa selalu nambah, win win solution?

Kembali ke kenyataan, semua hanya liburan dan lulucon, dan sebuah pelajaran bagi kita semua yang masih menikmati kelucuan di tanah air, bahwa masih ada masalah yang harus kita hadapi bersama dan kita selesaikan bersama selain banjir dan kasus penangkapan Harun Masiku.

You may have missed