Yang Tak Tersentuh

Yang Tak Tersentuh

“Sudah berapa lama kau melakukan itu?”

“…………”

“Hei..”

“Mmmm”

“Aku tanya sudah berapa lama kau melakukan itu?”

“Melakukan apa?”

“Itu, bengong.”

“Aku enggak bengong”

“Terus itu muka kau seperti manusia bengong. Awas kau kesurupan.”

“Enggak”

“Helleeh”

Bess menghentikan ritualnya itu dengan meneguk gelas terakhir Anggur Merah. Changyin mengernyitkan dahi dan meronta kebingungan kenapa sahabatnya itu selalu bersikap aneh. Sesekali pernah terbesit dalam benaknya, kok model manusia kayak Bess bisa ada di dunia ini.

Bess mengetahui dirinya memang suka bengong. Ia lupa sejak kapan mulai melakukannya. Karena baginya sesuatu yang murni dan otentik itu tidak harus tahu kapan kau mulai melakukannya, namun tiba-tiba datang tanpa disadari. Sesuatu yang manusia tahu kapan ia melakukan sesuatu serasa kurang alamiah dari dalam dirinya. Semacam sudah dipengaruhi dan direncanakan; tidak alamiah.

Changyin selalu ingin menasehati Bess agar jangan kebanyakan bengong karena enggak penting dan menghabiskan waktu. Tapi, ia urungkan niatnya itu, takutnya dapat menyinggung perasaan Bess. Ia pernah mendapati Bess bengong berjam-jam tanpa berkedip. Atau ketika ia di Stasiun Kereta dihanyut keramaian dan dia hanya duduk sendiri dalam diam tanpa mengalihkan pandangan. Bahkan di dalam Kereta, setelah usai ngobrol panjang dengannya, Bess hanya menatap wajah sayupnya di kaca jendela Kereta.

Selama bersahabat dengannya, Changyin baru menyadari kalau dari dulu Bess emang sering bengong tapi enggak separah sekarang ini. Sewaktu SMA, Bess merupakan salah satu siswi yang cerdas dan ceria sampai menjadi murid kesayangan beberapa guru di sekolah waktu itu. Di kampus, ia selalu berhasil mempersembahkan dirinya menjadi menusia yang ceria, agresif, dan ramah. Changyin mangakui bahwa Bess tahu kapan waktu yang tepat untuk bengong dan kapan harus menjadi versi manusia yang diinginkan manusia-manusia lain.

Untuk alasan itulah, Changyin mengajak Bess untuk ritual Anggur Merah, dan menanyakan alasan ia melakukan semua itu.

Bess menatap tajam mata Changyin. Matanya dingin. Mati. Tidak ada kehidupan di dalamnya. Entah apa yang ia lihat dari mata Changyin.

“Kenapa Bess?”

“……………”

“Akhir-akhir ini, aku melihat kau sering….”

“Bengong?”

“…………”

“Aku tahu. Kau pasti menganggapku aneh. Ngelamun yang enggak penting. Tapi kau enggak pernah bertanya, apa yang aku lamunkan dan kenapa aku melakukannya?”

“…………”

“Ngelamun adalah sebuah tempat peristirahatan. Istirahat dari Bess yang kau lihat.”

“Maksudanya?

“Setiap aku mulai bangun dari tidur, aku menjadi Bess, dan berusaha menjadi Bess; menjadi sebaik-baiknya Bess. Dan yang kau ajak bicara ini juga adalah Bess. Bukan Aku.”

“……………”

“Kau tahu, Mahasiswa, Dosen, Rektor, Manajer, CEO, Pejabat, Pedagang, Pembantu, atau siapapun. Itu hanyalah predikat manusia dan mereka mempertanggungjawabkan predikat itu. Dan beberapa lupa menjadi manusia. Akibatnya, mereka mengeksploitasi predikat itu untuk kepentingan predikat tanpa peduli manusia. Anehnya, meraka tidak merasa bersalah.”

“Apa hubungannya dengan Ngelamun?”

“kembali menjadi manusia. Melupakan menjadi Bess, Mahasiswa, Penumpang Kereta, Pembeli, Pejalan Kaki, dan Anak dari Ayah dan Ibuku. Hanya Aku. Aku hanya ingin mendengarnya, dan tenggelam di dalamnya.”

“Kau bisa gila, Bess”

“Kalau mendengarkan dan menghargai kemanusiaanku kau anggap gila, maka aku akan memilih gila dari pada menjadi orang yang tak tahu diri.”

Suasana sunyi. Changyin hanya diam tidak mau melanjutkan perdebatannya. Sampai kapanpun ia tak akan mengerti jalan pikiran Bess. Walaupun begitu, ia tetap sayang dengannya.

Udara malam sudah mulai dingin. Pemilik Angkringan sudah memberi sinyal pengusiran untuk mereka berdua.

“Mari, pulang.”
.
.
.
Oleh: Sepenatee

Rizki MS

Rizki MS

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Open chat