December 8, 2022

TV Digital dan Masyarakat Desa

literaturcorner.com Pada hari Rabu 3 November 2022 semua chanel televisi (TV) kecuali yang dibawah MNCTV, tidak bisa di akses melalui televisi analog, hal ini membuat kecewanya masyarakat Indonesia khusus nya di kampung saya, karena televisi memuat banyak informasi dan hiburan bagi warga, dan salah satu alat yang gampang di akses di masyarakat pedesaan untuk menuai informasi bagi masyarakat desa. Wacana peralihan TV analog ke digital memang sudah lama di sosialisasikan oleh pemerintah lewat TV, akan tetapi lewat pemerintah daerah seperti kecamatan dan desa tidak ada walaupun ada beberapa penerima Set Top Box (STB) secara gratis. Sulaiman seorang warga di Kab Bogor, Kec Tenjolaya “Tidak ada sosialisasi disini, saya tau hanya lewat siaran TV analog sebelum semua chanel berpindah ke TV digital seperti sekarang”.

Peralihan TV digital ini diperlukan karena teknologi televisi analog yang sekarang dipakai stasiun televisi nasional, memakan sumber daya yang besar pada spektrum 700 MHz. Karena alasan itu pemerintah ingin mengalihkan ke televisi digital agar lebih efisien, nantinya 700 MHz ini akan digunakan untuk kestabilan jaringan 4G LTE agar ketika ada bencana bisa berkomunikasi secara lancar. TV digital ini memang menguntungkan bagi masyarakat Indonesia terlebih peralihan ini agar sumber daya yang dipakai oleh stasiun TV nasional tidak terlalu banyak, akan tetapi apakah sosialisasi pada masyarakat Indonesia cukup masif lewat beberapa pemerintahan setempat apalagi daerah yang tidak terjangkau oleh sinyal internet yang 4G membuat tidak bisa menggunakan TV digital ini.

Ini merupakan modernisasi yang sudah terjadi di Indonesia khususnya di pedesaan, modernisasi memang tidak bisa kita acuhkan dalam kehidupan manusia, karena sifat modernisasi yang dinamis ini mampu beradaptasi dan menjadi sumber kebutuhan dalam kehidupan manusia yang semakin modern. Karakteristik pedesaan yang saat ini sudah mulai terkikis oleh jaman modern, hal ini karena masyarakat desa yang membutuhkan alat-alat produksi yang sifatnya modern.

Dalam teori nya Juggernaut Anthony Giddens yang menjelaskan modernisasi, bahwa modernisasi merupakan hal yang kompleks dan dinamis, Giddens berpendapat bahwa terdapat empat aspek yang mempelopori modernisasi diantaranya :

Kapitalisasi
Aspek kapitalisasi sangat begitu penting dalam modernisasi, jika dilihat adanya peralihan TV digital tak bisa dipungkiri karena adanya kapitalisasi, dimana TV digital harus memakai STB untuk bisa di akses, walaupun ada beberapa yang mendapatkan secara gratis di pemerintah orang-orang yang belum mendapatkan nya harus membeli dan itu merupakan sebuah sistem dari kapitalisasi

Industrialisasi
Jauh sebelum saat ini Indonesia sudah melakukan industrialisasi, hal ini ditandai dengan adanya mesin-mesin yang digunakan pada semua sektor, mulai dari pertanian yang sudah menggunakan traktor, buruh yang berkerja di pabrik industri yang pastinya menggunakan tenaga mesin bahkan nelayan yang sekarang sudah menggunakan mesin pada perahu sampai pada TV yang sudah modernisasi di tambah dengan kemajuan teknologi dengan peralihan ke TV digital.

Kemampuan Pengawasan
poin ini menjelaskan kemampuan pengawasan yang dikelola oleh pemerintah, orang berkepentingan, atau kehidupan pribadi. Contohnya, seperti keberadaan teknologi CCTV, traffic kamera, satelit dan sekarang adalah TV digital itu merupakan modernisasi yang sudah terjadi di Indonesia saat ini.

Kekuatan militer dan akses terhadap alat-alatnya

Akses terhdap alat-alat militer dibatasi oleh pemerintah, hal ini menurut Giddens salah satu aspek terjadinya modernisasi, alat-alat militer yang susah di akses dalam artian untuk mempunyai alat ini harus melalui beberapa proses, hal ini karena guna mempersempit perlawanan masyarakat sipil terhadap pemerintah.

Dari empat aspek tadi bahwa modernisasi tidak bisa di bendung arus nya karena sudah terjadi dan karena menjadi kebutuhan masyarakat sekarang untuk mengkonsumsi produksi dari jaman modernisasi.

Bila kita lihat dengan gagasan dari Michel Foucault dalam teori kekuasaan dan pengetahuan (Knowledge and power) menjelaskan bahwa pengetahuan di konstruksi oleh kekuasaan, begitupun sebaliknya untuk berkuasa membutuhkan pengetahuan. Dalam hal ini pemerintah sebagai insitusi yang mempunyai kekuasaan memproduksi TV digital untuk di konsumsi masyarakat Indonesia akan tetapi bagaimana nasib orang-orang yang tidak mampu membeli ataupun tidak terjangkau sinyal internet di Indonesia mereka akan ketinggalan segala informasi dan pengetahuan, maka dari itu Foucault memberikan gagasan bahwa pengetahuan selalu di konstruksi oleh kekuasaan seperti saat ini dimana masyarakat Indonesia yang tak mampu membeli dan tidak terjangkau sinyal internet tidak akan tau tentang pengetahuan yang di tayangkan di TV apalagi saat ini mendekati pemilu yang sedang gencar-gencar nya para elite partai bersosialisasi lewat TV tentang gagasan nya. Walaupun sekarang masyarakat memiliki handphone untuk informasi dan pengetahuan akan tetapi orang tua yang gagap teknologi tidak akan bisa memilah mana berita yang aktual dan hoaks.

Penulis : Zulkifli Iksan