October 5, 2022

Tuna Wisma

Hidup ini lucu. Kita sebagai manusia pasti butuh rumah sebagai kebutuhan primer. Dan pada realitanya, ternyata hati juga butuh tempat untuk pulang. Sama primernya. Bukan, bukan rumah dengan artian sama dengan bangunan yang terdiri dari tumpukan bata tempat berlindung dari panas dan hujan seperti yang kita tahu. Dan percaya atau tidak, aku sudah memilikinya. Ah mungkin sekarang tidak lagi.

Rumah itu, mungkin tidak ada istimewanya di mata orang lain. Namun tidak untukku. Bangunan kecil namun sangat hangat itu beberapa kali melindungiku dari serangan-serangan yang tidak manusiawi. Kokoh sekali, tidak ada tandingannya.

Beruntung sekali jadi diriku. Tapi semesta selalu tidak memihakku. Rumahku, pelan namun pasti menjadi ringkih. Beberapa kali kubuat temboknya retak, sedih sekali rasanya mengetahui fakta bahwa aku tidak bisa jadi pemilik yang baik untuknya.

Dan pada suatu hari, di hari terburuk yang pernah ada. Aku mengambil keputusan paling menyakitkan. Aku harus pergi, pergi dari rumahku yang tersayang. Sesakit apapun aku, akan lebih sakit jika aku bertahan dan membuat rumahku hancur menjadi berkeping-keping.

Aku berjalan tanpa arah, entah kemana kaki akan membawaku. Gangguan satu persatu datang, membuatku takut. Takut sekali hingga rasanya ingin kembali berlindung di rumah nyamanku, tapi TIDAK! Aku tidak boleh egois. Aku bukan pemilik yang tepat. Aku terlalu kotor untuk rumah senyaman itu.

Jadi yang aku lakukan adalah melanjutkan perjalanan sendirian walau dengan isak tangis ketakutan yang entah kapan akan berhenti.

.

.

Oleh: Kelakar Patah