October 5, 2022

Tindakan yang Berlandaskan Kesadaran!!!

Pengetahuan sejatinya akan muncul dengan diiringi keinginan awal untuk mencapai tujuan, sama halnya
dengan membaca juga akan membawa kita pada pandangan yang baru. Namun bukan demikian diartikan bahwa orang yang selalu membaca akan menimbulkan sikap progresif dalam mengartikan setiap makna.

Perlahan dan sistematis akan menciptakan sebuah keyakinan, wawasan, dan amal nyata yang kemudian akan membentuk sikap dan karakter dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak dijamin pula, keyakinan awal yang sudah mencukupi akan membuahkan hasil pada endingnya, dengan ber-iringnya waktu kepercayaan pada hal yang sama diawal akan berubah menjadi kesatuan yang tidak “bermanfaat lagi” bagi diri sendiri.

Karakteristik seseorang memang menimbulkan polemik dalam suatu bidang, entah itu hal yang negatif ataupun positif, yang penting bisa bermanfaat bagi ruang lingkupnya. Sama halnya dengan suatu wadah (tempat)  yang satu bersih dan yang satu kotor, tapi bentuknya dan ukurannya sama. Disisi lain, wadah itu akan menjadi nilai ‘berbeda’ jika orang yang menggunakannya mempunyai variasi yang berbeda atau cara mengaplikasikan wadah tersebut dengan cara yang unik, dan yang terpenting percantik dulu wadahnya sebelum isinya, biar orang yang melihat selalu tertarik. Enggak faham yaaaaa udah, hemmm

Bentuk kongkritnya dalam suatu organisasi mana-pun sama saja dalam menentukan kebijakan, ataupun program. Kalau tidak dilandansi dengan wadah yang baik sejak awal maka yang dikhawatirkan isi dari wadah tersebut juga akan timbul isi yang buruk. Artinya dalam mengawali suatu program kita harus tahu benar, mana yang lebih cocok terlebih dahulu untuk kemajuan organisasi, dan memang semuanya penting, semua untuk kemajuan kita semua. tapi, bukan untuk jati diri dan keyakinan diri sendiri, Itu yang menjadi persoalan.

Melatih diri untuk menjadi pemimpin adalah kebutuhan, keinginan atau bisa cita-cita semua orang, tapi melatih diri dalam melawan hawa nafsu untuk menjadi pemimpin masih belum banyak yang memiliki. Dalam salah satu buku Gus Dur pernah bilang “Suatu gerakan pembebasan yang sebenar-benarnya adalah pembebasan tanpa dasar apa pun, tanpa landasan apapun kecuali manusia itu sendiri. Jadi sangat eksistensialis,”

Disamping itu, keyakinan kita untuk menghidupi organisasi yang sudah membawa kita banyak perubahan haruslah selalu diiringi dengan rasa cinta yang selalu membawa kita pada arah yang lebih maju lagi, bukan jalan ditempat. Bisa disimpulkan bahwa, ketika menjalani salah satu kegiatan kita sebelumnya harus mempunyai padangan terlebih dahulu “apa yang akan saya lakukan ini akan memperoleh output seperti apa, lagi-lagi berbicara dengan “How”?.

“Bergerak sebagaian dengan perlahan tapi bisa membuahkam hasil yang sudah pasti lebih baik, dari pada bergerak keseluruhan tapi malah membuat keperbedaan timbul” kata salah satu teman. Artinya yang perlu digaris bawahi adalah ketika hal baru muncul maka langsung kembangkan dengan diselimuti keyakinan yang kuat. Tapi, yang masih kurang dalam organisasi sekarang adalah menyajikan kebiasaan yang cocok bagi seluruh anggotanya dan jangan sampai dilema dengan realita.

Sedangkan dalam ruang lingkup teknologi sering kita dengar “Input – Processing – Output”, dimana proses memasukan data, bisa diperjelas bahwa sebelum masuk dalam  ruang lingkup kita terlebih dahulu membawa niat dan ambisi dalam menentukan tujuan awal untuk mengawali langkah yang lurus, Processing lebih bertanggung pada “What” mengelolah data yang sudah masuk agar menjadi prioritas utama untuk mendapatkan apa yang sedang kita kerjakan sekarang, lebih merujuk lagi ke Output, berbicara dengan hasil dari pengolahan sebelumnya dan langsung mengerucut pada  “How” Bagaimana kita mengaplikasikan, memanfaatkan apa yang sudah diperoleh untuk menjadi bahan utama dalam memanfaatkan ilmu. Apalagi dalam ruang lingkup milenial yang tidak semuanya menginginkan ‘serba instan’. Keuntungan tersendiri memang diEra 4.0 ini, serba teknologi informasi yang menjadikan ketertarikan sendiri pada yang instan. Tapi, perlu diketahui saja, jangan kecepatan membawa opini dalam ruang yang lebih luas, perlu difilter terlebih dahulu semuanya sebelum masuk. Memang betul apa yang pernah dikatakan Pramoedya Ananta Toer “Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri.”

Dan pada akhirnya biarkan ambisi untuk menemukan hal baru terus dikejar dengan memperbanyak kemauan, program, atau yang lainnya. Sebab dari situlah jati diri yang awalnya belum terbentuk akan tercipta. Dengan menularkan rasa optimis bahwa semua pengetahuan bisa menjadi pedoman yang istimewa jika dilakukan dalam ruang lingkup organisasi, apalagi dilakukan secara bersama-sama. Semakin banyak ambisi semakin banyak pula daya saing kita terhadap objek akan selalu bertambah dan berkembang ini. dengan mempunyai wadah  organisasi yang sudah dipercaya banyak orang, begitu sangat berperan penting dalam mengayomi esensi realitas sekarang. Sudah menjadi bahan utama dalam memperbaiki kehidupan. Background organisasi PMII tepatnya, sifat responsive dalam mengambil keputusan bisa dijadikan dengan menjalankan tiga kosnep yakni, Diskusi, Refleksi, baru setelah itu Aksi.