December 8, 2022

Sepenggal cerita dalam novel “Aku Lupa Bahwa Aku Perempuan” karya Ihsan Abdul Quddus

literaturcorner.com Kisah tentang perempuan yang telah menggapai ambisinya. Sebagai politisi sukses, kiprahnya di parlemen dan pelbagai organisasi pergerakan perempuan menempatkan dirinya dalam lingkar elit kekuasaan. Latar belakang politik yang masih konservatif kala itu menjadikannya fenomena baru dalam isu kesadaran gender.

Tetapi, kehampaan menyelimuti kehidupan pribadinya dan hampir membuat jiwanya tercerabut. Masalah demi masalah mendera, bahkan anak semata wayangnya yang dia anggap sebagai harta paling berharga justru lebih akrab dengan sang ibu tiri. Hingga suatu kala, ia memutuskan lari dari kehidupan pribadinya, bahkan berusaha lari dari tabiat perempuannya. Pada usia lima puluh lima tahun, ia membunuh kebahagiaannya sebagai perempuan. Ia melakukan apa saja untuk melupakan bahwa ia adalah perempuan.

Inilah novel luar biasa tentang pergulatan karir, ambisi dan cinta. Kaya muatan filsafat tetapi dikemas dalam bahasa sederhana dan mengesankan. Tuntutan kesetaraan jender yang dirajut dalam kisah pertentangan batin seorang perempuan menjadikan novel ini bukan sekadar bacaan yang menginspirasi tetapi sekaligus contoh bagi perjuangan perempuan melawan dominasi.

Wanita yang sangat koleris, sehingga ia sudah merencanakan tujuan hidupnya dengan matang. Namun, sayangnya ia selalu menyampingkan kebutuhan keperempuanannya, sehingga itu terkesan tidak penting baginya. Baginya, politik adalah nomer satu. Ia tidak menginginkan pernikahan jika hanya mencoreng kecitraannya sebagai pemimpin negara.

Baca Juga : Manusia Biasa

Satu persatu konflik datang, lelaki yang bernama Abdul Hamid datang mengutarakan cintanya dan menawarkan diri untuk menikahinya. Pernikahan itu terlaksana ketika ia menyelesaikan skripsi S1-nya dengan pesta yang mewah. Ia dikaruniai seorang putri bernama Faizah dari suaminya. Sayangnya, pernikahannya hanya bertahan selama tiga tahun. Hubungannya dengan sang suami terpaksa berakhir, karena tidak ada kekorelasian antara pola pikirnya dengan pola pikir suaminya.

Pernikahan kedua terjadi setelah sepuluh tahun ia menyandang status sebagai janda. Kali ini ia bersuamikan seorang dokter terkenal, bernama dokter Gamal. Dokter yang memiliki sifat sama dengannya; lebih mengutamakan pekerjaan daripada hal-hal pribadi rumah tangganya. Mereka juga memiliki prinsip yang sama tentang cinta, yang hanya bisa mereka lakukan ketika mendapati waktu luang. Meskipun mereka sendiri sama-sama tahu, bahwa kesempatan waktu luang yang mereka punya sangatlah sempit, mengingat waktu-waktu kesibukan pekerjaannya mendominasi hari-hari mereka.

Pernikahan kedua hanya bertahan lima tahun. Dengan Faizah yang selalu ia titipkan kepada ibunya (nenek dari Faizah). Ia juga sering bertabrakan ego dengan dokter Gamal, dan menyebabkan pernikahannya kembali gagal untuk yang kedua kalinya. Perasaan terpukul pada perceraian kedua tidak membuatnya jengah, untuk menyadarkan fitrahnya kembali sebagai seorang perempuan. Meskipun saat itu usianya lima puluh tahun, namun kenyataannya ia terbiasa mengingat dirinya sebagai wanita ambisius. Bukan sebagai perempuan sejati.

Merupakan sebuah cerita yang komplek dan menusuk kodrat perempuan yang semestinya. Dalam pikiran saya, tidak apa-apa seorang wanita berkarir sesuai dengan cita-citanya. Namun, jangan pernah melupakan tugas utamanya sebagai seorang perempuan. Ambisius dan menginginkan perubahan dalam hidup adalah sesuatu yang wajar, tapi jika sudah mengesampingkan hal yang seharusnya ia utamakan pula, maka disitulah akan muncul percikan masalah dalam kehidupan dan jati dirinya.

Baca Juga : HILANGNYA CHECK AND BALANCE DI NEGRI DEMOKRASI

Sudah jelas bahwa judul buku ini memang sangat unik dan isinya dapat mengingatkan kita semua dalam memposisikan diri kita sebagai seorang perempuan sejati. Jangan pernah lupa akan kodrat ke-perempuan-an kita. Agar sesuai dengan apa yang Tuhan turunkan dan fitrah yang terdapat pada wanita, maka wanita pun harus menyadari dan memahami fitrah atau kodrat apa saja yang ada dalam dirinya, sehingga kodrat tersebut dapat dijaga, dipelihara, dan dioptimalkan sebagaimana tujuan Tuhan dalam menciptakannya. Sehingga dalam novel tersebut kita dapat melihat problema dalam diri Suad yang terlalu ambisius dan seakan-akan melupakan peran vitalnya sebagai seorang istri dan juga seorang ibu. Ambisius memang baik, tapi jika ambisius tersebut sudah tidak terkontrol maka kita dapat menjadi seperti seorang Suad dalam cerita tersebut.

Wanita pada dasarnya memiliki fisik yang sangat berbeda dengan laki-laki.Wanita memiliki ciri fisik yang cantik, feminin, sangat gemulai dan menyimpan potensi keindahan yang lebih dibanding laki-laki. Fungsi fisik pada wanita diantaranya memiliki potensi yang sangat besar untuk keberlangsungan hidup manusia di muka bumi ini. Wanita memiliki fungsi fisik yang vital dan itulah perjuangan bagi wanita jika dilakukan dengan sebaik-baiknya. Jelas potensi fisik ini tidak dimiliki oleh laki-laki dan peran laki-laki tidak bisa menyamai sebagaimana wanita. Fungsi fisik tersebut diantaranya adalah fungsi rahim untuk mengandung, payudara untuk menyusui, dan tentu hormon-hormonal lain yang berfungsi untuk mendukung peran wanita sebagai ibu, istri, bagi suami dan anak-anaknya.

Fungsi ini jika dirubah dan ditentang, maka akan berefek pada keseimbangan tubuh wanita itu sendiri dan pada keseimbangan di masyarakat. Bayangkan saja jika wanita-wanita tidak mau mengandung, menyusui, dan melahirkan. Tentu tidak akan ada generasi baru, penerus kehidupan keluarga, dan keberlangsungan peradaban di muka bumi. Untuk itu, fungsi tersebut tidak mungkin ditentang atau dirubah. Dalam aspek emosional pun, wanita ditempatkan sebagai yang lebih emosional dan sensitif dari laki-laki, hal ini tentunya berkenaan dengan perannya sebagai seorang ibu. Hal ini bukan hanya sebagai kelemahan wanita melainkan potensi kelembutan, kasih sayang, dan kesabaran wanita dalam mendidik anak-anaknya serta mengelola hubungan rumah tangga bersama suami.

Jika menyelisik lebih dalam maka sejatinya wanita dan laki-laki sama-sama manusia yang memiliki potensi yang sama. Berbeda hanya pada aspek fungsi dan perannya saja. Oleh sebab itu, novel ini dapat menjadi salah satu pengingat akan kodrat utama seorang wanita. Mengingatkan kita bahwa hiduplah sesuai dengan kodratmu, berkreasilah dan berkarya serta berkarirlah di luar sana tanpa melupakan fungsi dan peran vitalmu sebagai seorang anak, seorang wanita, sebagai seorang pendamping suamimu, dan ibu bagi anak-anakmu.

Resensi Novel : “aku lupa bahwa aku perempuan”
Penulis : Indri Ati Utami Agustin kader Rayon Wolu Songo IAI TABAH.