October 5, 2022

Salah dan Benar bukan Salah VS Benar

literaturcorner.com – Selamat pagi, siang, sore bahkan malam bagi pembaca, bagi yang baca pagi ya selamat pagi, pokoknya sesuaikan aja kondisi kalian. Kalian tahu kangen, eh rindu aja deh biar kerasa banget bacanya haha, tau kan ya? Pasti tau dong, May be yang nulis sedang mengalami kosa kata yang bersifat adjektiv itu, kangen kalian para pembaca online yang mungkin sedikit ada yang melirik tulisan yang ala kadarnya ini cimiwww~.

Yang suka kenalan yuk haha tak kenal maka tak sayang wkwkwk ada ga sih dari kalian kalo mau bertemu seseorang atau kenalan dengan seseorang kalian analisis profilnya dulu? Kita gunain google sesuai fungsinya, kalo gak ada ya gapapa si aku cuma pengen ngasih tau aja, kalo tertarik ya monggo dibaca. Kalo mau bertemu seseorang atau mungkin sudah berkenalan dengannya, aku biasanya gunain google, kalo yang akan ditemui atau bahkan hanya lewat sosmed menurutku semakin dia punya kendali besar dalam kehidupannya, lingkungannya, maka semakin banyak google memberikan informasi. Bahasa kerennya analisis profil menurutku. Kita tahu latar belakangnya seperti apa, pekerjaannya pokoknya sebanyak google memberikan informasi maka semakin kita bisa nyambung bicara dengan subjek yang kita tuju. Jadi, menurutku membaca, mencari tahu latar belakang subjek yang akan kita temui, maka semakin banyak informasi yang akan kita dapatkan. Gituuuu si menurutku, jadi pas kita bicara sama subjeknya kita sudah selangkah lebih awal, kek detektif aja cuy yassalam~

Sudah ya becandanya, kita akan mulai fokus dengan judul, paragraf awal tadi hanya sebagai pembukaan awal salam rindu buat kalian, ya semoga saja kita bisa bertemu suatu saat nanti, ini beneran nggak bohong, duarius malah. Karena aku emang suka banget ketemu sama orang baru, kali aja dapat permen milkita 3 milkita serasa 1 gelas susu kan mayan hahah. Sudah sudah, sebelumnya saya katakan lagi, kalo tulisan ala kadarnya ini yang ga tau ada manfaatnya atau nggak, tapi yang jelas pengen ada menfaatnya, tulisan ini tidak menggunakan PUEBI yang benar, salah banget ya? Emang sudah jelas masih nanya aja wkwkw bukan gitu si, hanya saja emang aku pengen bawaannya relax gitu aja sama kalian, bisa dibaca pas mau tidur, terus nanti kita ketemu di mimpi wakakaka enggak enggak, pokoknya kalian bisa baca kapan pun dan di mana pun. Itu aja, fix paragraf kedua buat curcol emang, semoga kalian tak bosan baca tulisan retjeh ini ^^

Mengenai Salah dan Benar bukan Salah VC Benar, ada hal yang ingin kutulis, kalo kita sejalan atau bahkan bersimpangan maka gak tersebut menjadi point of view yang akan kita bangun. No problem bahasa kerennya, this is negara demokrasi? Maka pendapat kalian yang berbeda seharusnya tak menjadi masalah. Ini menjadi sudut pandang saya. Jadi gini, kenapa Salah dan Benar, karena menurutku bisa dikatakan salah dan benar itu bukan sebuah perlombaan yang jadi Salah VS Benar, karena keduanya punya makna yang berbeda. Sebuah hal yang akan kita pilih, kita usahakan dengan pemikiran matang sebelumnya, pasti di tengah tengah nanti akan menemukan kejanggalan, atau resiko, seperti bukan seharusnya gitu yang kita ekspektasikan, hal ini bisa terjadi karena lingkungan kita, atau point-point lainnya yang memengaruhi kendala kinerja kita atau bahkan di luar dugaan kita. Kenapa ga seharusnya aku pilih yang itu ya? Kenapa aku malah pilih ini? Apa mungkin salah jalan ya? Terus kalo salah jalan emang mau ke mana? Belok ke atas gitu? Haha Kita nggak bisa memutuskan salah jalan.

Bukankah pas kita mau ambil yang itu kita sudah yakin? Lantas kenapa masih ada keraguan? Kita hanya butuh meyakinkan kembali bahwa di kemudian waktu, hari, minggu bahkan bulan akan ada the miracle atas apa yang kita pilih. Kita ga usah banding bandingan dengan yang lain, kita hanya perlu fokus dengan apa yang kita pilih, dan mencari jalan keluar jika ada kesalahan yang tak terduga. Tapi seharusnya sebelum itu kita pasti punya planning lainnya, hal ini hanya menjadi tabungan kita, atau bahasanya untuk memudahkan kita dalam hal yang tak terduga, kita sedia payung sebelum hujan gitu.

Contohnya seperti ini ni, kenapa pas kita kecil kalo ditanya mengenai cita-cita kebanyakan jawabnya Dokter? Dan itu termasuk saya hahahah dan sekarang kenapa kalo waktu kita kecil jawabnya Dokter pas udah gedeh gini kita gak merealisasikannya dengan cara belajar tentang ilmunya? Malah udah besar kita ambil jalan yang berbelok? Ada yang salah? Apa keputusan kita benar? Kita ga akan bisa menghakimi benar atau salah seperti yang saya katakan di atas, benar vs salah, di sini kita hanya mengikuti alur yang dulu mungkin pas kita jawab cita-cita kita asal ceplos, dan kenapa ya pas kecil bisa gitu kita jawab dokter? Aku si sebenernya, atau kalian juga ngalamin? Ko ga ada kreatif kreatifnya gitu, apa kek haha, kemaren ketemu sama anak kecil, jawaban mereka pas ditanya mengenai cerita lebih kreatif si dibanding kita jaman dahulu kalo kalian kelahiran 90 an haha jawaban mereka ada yang bilang mau jadi koki, nah loh udah kreatif kan? Wkwkw

Tapi, bukan berarti kita berada di jalur yang begitu begitu saja pas kita sudah ambil keputusan kita, pasti deh tuh keputusan akan ada hal yang baru seperti yang saya katakan di atas, the miracle (ini tuh tulisannya bener gak si? Kalo salah ya mohon dibenerkan hihi) kan kita baru menjalani ya jadi kita ya harus sabar, pokoknya kita tahu gitu aja kemana arah yang harus kita tuju, planning kita siapkan, walaupun nanti pada akhirnya tidak sesuai keinginan kita, kita hanya butuh berusaha kan ya? Mengenai benar dan salah biarkan ia menjadi penilaian logika kita. Eits gais tapi benar san salah ini bukan ranah kebaikan dan kejelekan y? Kita sudah dewasa ya seharusnya kita tahu apa yang aku maksud itu gitu dehh…

Gimana, gimana? Pusing gak? Kuberharapnya si nggak ya, pengennya kalian tetep enjoy dengan apa yang kutulis bisa ditangkap kek ikan gitu hehe. See you next time, semoga kita bisa berjumpa lagi, baik bersapa lewat tulisan apa kadarnya ini maupun kita ketemu langsung. Selamat istirahat genksss salam rindu buat kalian :3.

.

.

.

Fakhriyah; Mahasiswi Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Diponegoro.

 
(Baca Juga Masalahnya Bukan Masalah)