October 5, 2022

Ruang

Sepatu usang yang digunakannya menjadi ciri khasnya.

Tak ubahnya kaos kaki setia yang selalu menemani.

Tiba di ruang nostalgia.

Duduk manis termenung sambil memainkan aksara dan pena.

Sambil mendengar penjelasan jemu terdengar.

Membuatku suntuk akan masalalu.

 

Aksara dengan dinamika sudut – sudut ruang.

Mengasingkan hampa dan sepi.

Waktu terlalu cepat.

Mengundang perjamuan makan malam di lorong lorong.

Jenuh berbincang dengan sang hampa.

Berjalan melewati ruang nostalgia.

Aku termangu melihat semua semu.

Perlahan mendatangi tubuh suci.

Terdapat satu titik cahaya dari sang pemilik semesta.

 

Oleh: Alfianita Nuril Hidayaty
Mahasiswa UINMA (Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang)