September 29, 2022

Rindu yang Jatuh di Pantai Teluk Penyu

literaturcorner.com “Inilah Pantai Teluk Penyu, tempat untuk bercurah rasa, berbagi kesedihan dan berbagi kebahagiaan, tidak ada gunanya jika suara deburan ombak dan indahnya pemandangan ini tidak ada kau disisiku tari”

Suara gerimis dan dinginnya angin malam masih menyelimuti Desa Tegalkamulyan, salah satu desa yang terletak di Cilacap Selatan, suara ombak masih terdengar jelas di telinga pemuda desa bernama Teguh, yang baru tadi sore ditinggal pergi Lestari kekasihnya ke Jakarta untuk mencari penghidupan menjadi seorang Urban.

Teguh hanyalah seorang Petani Desa yang hidup biasa saja, dia sudah menjalin hubungan dengan Lestari kurang lebih baru 3 bulan, dan mereka bertemu di Pantai Teluk Penyu, Cilacap ketika sore itu.

Jelas sebagai seorang lelaki Teguh merasa sedih dan kecewa tidak bisa membersamai kekasihnya yakni Lestari untuk pergi bersama ke Kota Urban Jakarta, yang sering orang bilang sebagai kota , kota macet dan kota penuh dengan tantangan. Bukan tanpa alasan Teguh merasa sedih dan kecewa, dia tidak bisa bertemu dan dekat dengan Lestari, belum lagi nanti disana bisa saja Lestari kepincut sama cowok yang ada di Jakarta. Iya, dia merasa khawatir sekali karena temannya pernah cerita dan hubungannya kandas kala itu, karena kekasihnya kepincut orang lain di Tanah Rantau.

Selepas sholat isya’ nampaknya Mas Teguh belum pulang kerumahnya, biasanya kalau waktu isya’ dia pulang dari musholla langsung bergegas kerumah, hari ini dia belum pulang ke rumah, dia memutuskan untuk pergi ke pantai malam itu, karena kebetulan letak pantai yang hanya kisaran 200 m dari rumah orang tuanya Teguh.

Entah apa yang dipikirkan oleh Teguh malam itu, padahal sedang gerimis dan angin malam penghantar perahu nelayan terasa sangat dingin menusuk kulit sampai masuk ke peredaran darah, akan tetapi Teguh tidak peduli, Teguh lebih peduli dengan kenangannya waktu pertama dia menembak Lestari dan diterimanya, wanita asal Kesugihan yang di kenalnya kurang lebih satu tahun silam.

Sesampainya dibibir pantai dia duduk termenung, dalam pikirannya dia membayangkan dua pilihan tentang hubungannya, ‘dia akan ditinggalkan karena pria lain yang lebih ganteng, atau dia ditinggalkan karena dia tidak bisa menyemangati dan menghibur kekasihnya itu’.

Semenjak Lestari pergi pukul 16.30 dan mengirimkan chat melalui WA yang berisi, “ Mas, doain aku ya semoga selamat sampai tujuan dan secepatnya bekerja untuk masa depan kita nantinya, I love you mas teguhh, Muachhhh”.

Baca Juga: Pengabdian yang Tidak Berujung

Sampai dengan pukul 20.00 belum ada pesan darinya lagi, karena memang fitur WA terakhir dilihatnya di matikan sehingga Teguh tidak bisa memastikan kapan dia terakhir online, rasa gelisah terus menghantui pikirannya, posisi dia sekarng dimana, karena chat dia yang mengatakan posisi sedang dimana belum di baca meski sudah centang dua alias notif terkirim akan tetapi belum dibaca.

Sembari melihat cahaya kerlap – kerlip PLTU Karang Kandri dan Pulau Nusakambangan dia sesekali membuka Handphone untuk memastikan adakah notif WA dari kekasihnya itu, apakah sudah membalas atau belum, wajar apa yang dilakukan oleh Teguh pada malam itu, mungkin jika posisi seperti Teguh, semua juga akan melakukan apa yang dilakukan oleh Teguh dengan menenangkan diri di bibir Pantai pada malam hari.

Tak juga beranjak dari Pantai akhirnya gerimis pun reda, tumben gerimis hari ini begitu cepat reda, biasanya sampai jam 12 malam bahkan dini hari, Teguh tidak memperdulikan air laut yang sudah mulai pasang, sesekali matanya tertuju pada perahu nelayan yang ingin pergi untuk menjemput rejeki malam itu.

Setelah berapa lama di Pantai sekitar pukul 23.00 Teguh memutuskan untuk pulang kerumah dan melanjutkan kebiasaannya, yaitu tidur, tidur malam ini tanpa di temani chat dari pujaan hatinya, karena rasa kantuk yang terlalu berat dia memutuskan untuk tidur dan sudah tidak berharap ada balasan WA dari kekasihnya itu.

Mas Teguh terjaga, ketika itu ia terbangun sekitaran Pukul 04.00 Wib dan dia langsung melihat Hp nya yang tergeletak persis disamping ia tidur, guna melihat apakah sudah ada balasan dari Lestari kekasihnya.

Lagi – lagi memang belum ada balasan dari Lestari, perasaan yang sudah mulai campur aduk di rasakan oleh Teguh, entah apa yang sedang di lakukan oleh Tari sehingga tak kunjung jua membalas chatnya yang sedari kemari malam belum di balas.

Pagi ini matahari bersinar begitu sempurna dan cerah, sebuah cahaya yang agak menyilaukan mata muncul dari arah Timur dengan selimut gumpalan-gumpalan awan yang tebal dan pemandangan luar biasa dari pantulan cahaya matahari di air laut yang luas dan surut pagi itu, inikah sunrise, sebuah pemandangan yang tentu saja selalu di lihat oleh para dua sejoli di seluruh dunia, bahkan kisah cinta yang di kisahkan di kapal titanic, rama sinta, romeo Juliet pernah mengalami dan melihat secara langsung drama sunrise ini, mungkin Teguh terinspirasi dari kisah itu.

Terus berpikir dalam lamunan panjang yang mungkin sedang membayangkan apa yang terjadi jika memang Lestari kekasihnya itu meninggalkan dia untuk bersama pria lain yang lebih baik dari dirinya.

Semua yang pernah mengalami perpisahan, ditinggal sang kekasih dari berbagai alasan bahkan satu juta alasan pasti rasanya sangat perih, serasa dunia ini tidak berpihak pada dirinya, ataukah ini pelajaran bagaimana cinta ini selalu menyelipkan sebuah pesan agar bisa menjadi sesuatu yang tabah dan kuat untuk bisa menjalani hidup, karena hidup ini tidak melulu soal cinta, sebuah pepatah yang menyatakan bahwasanya hilang satu akan tumbuh seribu, itu patut di pegang agar mampu tegar di tinggal orang yang di sayangi.

“Setega itukah Tari membiarkanku dalam kerinduan ini, sudah satu hari ini dia tak balas chatku, apakah dia lupa kalau kita ada ikatan sumpah janji untuk selalu bersama, bahkan setelah aku chat dan coba aku telepon dia tidak ada respon sama sekali untuk membalas maupun menjawab teleponku” kata Teguh.

Tak ayal pikirannya mulai melayang layang bebas untuk berprasangka hal yang lebih buruk dari ditinggalkan yaitu diduakan kemudian, tak bisa di nilai memang, lebih sakit ditinggalkan demi orang lain atau diduakan ketika masih ada hubungan, tidak usah berbicara itu, yang namanya sakit ya tetap sakit gak harus bertanya sakitan ditinggalkan atau diduakan.

Iyahh…. akhirnya pun sudah sampai tiga hari chat tidak dibalas dan telepon tidak diangkat, Teguh pasrah dengan keadaan ini, dia merasa digantung, merasa kecewa dan merana.

Ternyata Lestari kembali ke mantan pacarnya yang dulu, yang kini sama-sama merantau di Jakarta, permintaan maaf dari Lestari memang menyayat hati, yang menjadikan Teguh hanya sebuah pelarian di tengah rasa kesepiannya, karena memang kadang cinta hanya mampir untuk memberikannya pelajaran, lalu pelajaran apa yang bisa di petik dari kisah patah hati Teguh.

Kini, setiap pergi ke Teluk Penyu terlihat sangat besar tulisan Lestari di hamparan pasir pantai dan wajah Lestari di Lautan Samudera Hindia, kini Teguh membiarkan Rindunya untuk jatuh di pantai ini.

Rindu dan patah hati memang bisa dirasakan tanpa harus jatuh cinta terlebih dahulu, patah hati bukan alasan untuk berhenti mengejar impian sobat ambyar, bagi Teguh kekecewaanya terhadap Lestari bak gulungan ombak pantai yang tidak pernah berhenti, sedalam palung laut dan seluas Hamparan Samudera Hindia.
.
.
.
Oleh: M. Aan Setiawan
Universitas Pamulang

You may have missed