September 29, 2022

Refleksi Hari Lahir Pancasila

literaturcorner.com – “Ibu, kaulah wanita yang mulia, derajatmu tiga tingkat dibanding ayah, kau mengandung, melahirkan, menyusui dan merawat……..”

Tiba-tiba saya berfikir, “bagaimana dengan perempuan yang ditakdirkan tidak mempunyai keturunan? Apa mereka tidak termasuk wanita yang mulia, yang derajatnya lebih tinggi dibanding ayah?”

Lagu Qasidah Nasida Ria yang berjudul Ibu, selain membangun paradigma/melahirkan cara pandang baru mengenai perempuan, tentu ini berdampak pada kekhawatiran, seperti yang dialami oleh penyanyi dangdut Siti Badriah. Pada setiap lebaran ia khawatir ditanya kapan nikah. Tapi tahun ini berbeda, ia khawatir ditanya kapan punya anak ?

Dalam salah satu berita gosip milik TV swasta, tentu pertanyaan ini akan dan terus ada, tercipta atau tidaknya lagu ini pun akan tetap muncul pertanyaan seperti itu. Tapi menurut saya, ada kekeliruan dalam salah satu lirik lagu ini, dan tentu inipun menjadi cara pandang baru bahwa bagi saya yang mendiskriminasi perempuan tidak hanya dilakukan oleh kaum laki-laki, dan ingat ini perempuan, bahwa siapapun berpotensi, bukan hanya kaum lelaki saja yang selama ini menjadi bahan mengkritik soal kesetaraan gender.

Pagi hari menjelang fajar, tetiba saya bernyanyi,

Ibu, kaulah wanita yang mulia, derajatmu tiga tingkat dibanding ayah, kau mengandung, melahirkan, menyusui dan merawat….”

Dengan mengulanginya sampai beberapa kali, hingga muncul pertanyaan, “bagaimana dengan perempuan yang ditakdirkan tidak mempunyai keturunan? Apa mereka tidak termasuk wanita yang mulia, yang derajatnya tiga tingkat dibanding ayah?”

Tampaknya kita harus mengambil pelajaran dari percakapan Nabi dengan salah satu sahabatnya, yang pada saat itu Sahabat bertanya ;

Ya Rasulullah, siapakah yang harus dihormati?
Kemudian Rasulullah menjawab ; Umuka, umuka, umuka dan yang ke empat kali Rasulullah baru mengatakan Abuka.

Sudah jelas bukan, bahwa nabi menganjurkan untuk memuliakan Ibu tanpa mengartikannya secara detail. Kata ‘Umi’ pada percakapan Nabi dan sahabatnya ialah pilihan kata yang tanpa mengartikan secara detail, tidak mendiskriminasi dan itu universal, lain hal jika kata umuka atau Abuka, itu hanya faktor budaya yang kebetulan Nabi hidup di Madinah.

Coba kalau hidup di Jakarta, bisa-bisa “Enyak- babeh” panggilannya.

Makanya berbeda dengan panggilan ibu dan bapak di Indonesia sangat begitu beragam. Hal itu didukung oleh keberagaman bahasa yang lahir dari berbagai suku, etnis dengan jumlah 652 bahasa daerah, meski dilain pendapat Wikipedia mencatat ada 784 bahasa di Indonesia.

Data ini terakhir diperbarui pada 2017 dan diperbarui setiap tahun pada Oktober,” kata Kepala Badan Pengembangan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Kebudayaan Prof Dadang Sunendar di Banda Aceh, Kamis (16/8/2018), dilansir Antara.

Maka dari itu di hari lahir Pancasila ini, mari kita sebagai pemuda-pemudi Indonesia menjunjung bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia dan tetap merawat budaya lama serta menerima budaya baru dengan santun dan santuy.

Semoga kita terus dan akan mewujudkan nilai-nilai Pancasila yakni salah satu diantaranya ialah Kemanusiaan yang adil dan beradab.

.

(Baca: Tadarus Puisi)

Oleh: Yeyep Apandi

You may have missed