October 5, 2022

Potret Jodohku Adalah Diriku Sendiri

literaturcorner.com – Jika kita mendambakan jodoh yang baik akhlaknya, kita juga harus berusaha memperbaiki diri. Siapa dan seperti apa jodoh kita kelak adalah gambaran dari diri kita sendiri. Jika kita senantiasa memperbaiki diri, jodoh kita pun di sana sedang melakukan hal yang sama. Sebaliknya, jika kita senantiasa menumpuk perbuatan keji, tidak menutup kemungkinan jodoh kita pun melakukan hal yang serupa.

Setiap jiwa pasti menginginkan jodoh yang terbaik akhlaknya, yang santun ucapannya, yang penyayang dan bertanggung jawab. Seperti halnya yang telah tertulis dalam kitab suci Al-Qur’an sebagai berikut:

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (Q.s. an-Nuur [24]:26)

Jika memang jodoh adalah potret diri kita sendiri, lalu bagaimana dengan orang-orang yang kenyataannya tidak sama akhlaknya antara suami dan istri? Apakah itu berarti mereka tidak berjodoh?

Pertanyaan yang tidak asing lagi di telinga kita. Bagaimana jika ada perbedaan akhlak yang dimiliki oleh sang suami dengan sang istri. Baik buruknya antara keduanya sangat terbatas oleh bagaimana orang lain yang menilainya. Manusia yang memiliki keterbatasan dalam hal pengindraan. Mata manusia hanya berkerja melihat apa yang kasat mata.

Baik buruknya penilaian manusia terhadap sesama manusia akan terbatas dari segi aspek mana mereka melihatnya. Apa yang tampak mata terkadang hanya bayang-bayang semu meskipun itu bukti nyata yang bisa dilihat oleh manusia dengan mata telanjang.

Saat kita harus berjodoh dengan orang yang tidak baik, bukan berarti dia bukan jodoh kita. Sebaliknya, saat kita harus berjodoh dengan orang yang jauh lebih baik dibanding kita, bukan berarti dia bukan jodoh kita. Anggap saja itu sebuah ujian yang harus kita terima dengan lapang dada atau kita anggap itu adalah sebuah ladang untuk beramal.

Saat kita berjodoh dengan orang yang lebih buruk dibanding kita, maka saat itulah kira diberi kesempatan untuk beramal dengan cara membantunya untuk menjadi baik. Sebaliknya, saat kita berjodoh dengan orang orang yang jauh lebih baik dari pada kita, berarti jodoh kitalah yang diberi peluang untuk berbuat kebaikan itu.

Baik di mata manusia belum tentu baik di mata Allah, dan buruk di mata manusia belum tentu buruk di mata Allah. Senantiasa berpikir positif maka yang terjadi adalah hal yang positif.

(Baca Juga: Tiga Trik Mudah Ikhlas dan Istiqomah Ada dalam Diri)

.

.

Oleh: Ega Trisnawati (Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah; Universitas Negeri Surabaya)