October 5, 2022

Pengabdian yang Tidak Berujung

literaturcorner.com -Kukuruyyuuukkk !!! Kukuruyyuuukkk !!! Kukuruyyuuukkk !!! Kukuruyyuuukkk !!!

Salah satu dari gabungan angin itu akhirnya berhasil membangunkan hewan-hewan peliharaan milik warga dari seluruh penjuru desa, Salah satunya adalah ayam jantan milik Pak Daud. Tepatnya di dusun Mertelu. Berkali-kali ayam itu berkokok akhirnya membangunkan Pak Daud dari tidurnya, dengan malas dan masih lemah Pak Daud bangun dari tidurnya dan melihat jam.

“Alhamdulillah waktu menunjukan pukul 04.00 Wib, masih bisa untuk sholat qobliyah shubuh Pukul 04:34 untuk daerah Cilacap dan sekitarnya”.

Pak Daud pun langsung menuju ke kamar mandi untuk melaksanakan wudhu, nampaknya airnya cukup dingin yang membuat badan Pak Daud menggigil, Pak Daud pun selesai melaksanakan sholat qobliyah sekaligus sholat shubuh, selesai sholat kemudian beliau membaca wirid, diakhir wirid beliau terlihat nampak murung dan matanya berkaca-kaca, ternyata beliau teringat 50 tahun yang lalu ketika istrinya masih hidup dan baru mempunyai anak satu yang kebetulan berumur satu tahun lebih, dimana saat itu anak laki-lakinya itulah yang membangunkannya dengan tangisan manja ketika mau shubuh, dan setiap habis sholat shubuh berjama’ah dirumah, istrinya memasak nasi dan memandikan anak laki-lakinya, beliau bersiap-siap merapikan buku yang dipelajarinya semalam, untuk bersiap menuju ke sekolahan mengajar dan mendidik siswa – siswi MTs Nailul Anwar Kesugihan.

Beliau mengampu mata pelajaran bahasa indonesia dan pendidikan kewarganegaraan. Masih teringat didalam memorinya bagaimana suasana 50 tahun yang lalu itu. Sudah Hampir 50 tahun beliau mengajar diberbagai sekolah dan kebetulan terakhir di MTs ini, sehigga rasa geram dan rasa gaula pun beliau sudah merasakan berkali-kali.

Diumurnya yang sudah menginjak 75 Tahun beliau kini masih aktif mengajar karena beliau pernah bercita-cita menjadi seorang guru dan akhirnya tercapai setelah Umur beliau 29 Tahun, di saat itu beliau sangat meneladani dan terinspirasi dari bapak pendidikan indonesia Ki Hajar Dewantara yang jasanya bisa diingat dan menjadi sejarah bagi bangsa, walaupun hanya gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa beliau tetap senang dan bahagia, karena kecintaan beliau terhadap pendidikan tidak diragukan lagi, dan juga ini sebagai pengabdian beliau untuk negeri tercinta dan untuk masyarakat Indonesia yang membutuhkan pendidikan.

Sebenarnya beliau tak mempunyai keinginan untuk disanjung maupun dipuji oleh orang, karena kesetiaannya menjadi guru, bagi beliau ini semua masalah tanggung jawab dunia dan akhirat yang harus beliau penuhi, kini beliau hidup hanya sebatang kara dikarenakan anaknya meninggal dunia 20 tahun yang lalu, karena kecelakaan dan istrinya pun sudah meninggalkan beliau sejak umur 30 tahun karena serangan jantung, entah apa yang ada dalam benaknya sehingga di umur yang bisa memungkinkan untuk menikah lagi, tapi beliau tidak menikah, entah karena rasa cintanya yang besar terhadap istri atau karena trauma, entahlah hanya Pak Daud dan Allah yang tau.

Tanpa terasa, lamunan itu membuat air mata Pak Daud keluar cukup deras, namun beliau kemudian terbangun dan segera memasak untuk sarapan, beliau masih sangat bersemangat untuk mengajar dan mendidik siswa-siswi di MTs, mungkin ini alasan Pak Daud untuk tidak menikah lagi, karena kebahagiaannya melihat siswa – siswi di sekolahannya, dan rasa kangen terhadap anak didiknya sebentar lagi akan terobati di Sekolah.

Baca Juga: Sebuah Harapan

Waktu sudah menunjukkan Pukul 05:55 saatnya Pak Daud berangkat ke sekolahan dengan sepeda kesayangannya yaitu sepeda tua yang mungkin untuk zaman sekarang sudah menjadi sepeda yang antik. Rasa bangga dan bahagia itu kembali timbul setelah mengayuh beberapa saat, ketika beliau melihat siswi SD mencium tangan Ibu dan Bapaknya berpamitan untuk berangkat sekolah.

Namun disisi lain beliau pun agak terharu karena ingat anak beliau yang sudah meninggal, persis anaknya dulu seperti itu ketika berpamitan dengan beliau, jarak yang lumayan jauh dari tempatnya mengajar tidak membuat Pak Daud berhenti mengabdi, kecintaannya terhadap dunia pendidikan yang membuat beliau terus bersemangat. Beliau ingin menyampaikan ilmu yang dia dapat untuk murid-muridnya agar lebih baik darinya dan kelak muridnya bisa mencapai cita-citanya menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara.

Pak Daud masih terus mengayuh sepedanya dengan penuh semangat dan membawa harapan agar anak didiknya bisa menjadi anak yang sukses dan membanggakan orang tua khususnya, berguna buat bangsa umumnya, digayuhannya kali ini beliau melintasi persawahan yang sudah mulai panen, kebetulann sudah banyak para petani yang berada di sawah itu untuk memetik hasil panennnya, sesekali Pak Daud menyapa para petani.

Di jalan tengah sawah itu berdiri begitu banyak pohon yang seolah – olah menyambut kedatangan Pak Daud dengan segala kesederhanaannya, pohon itu besar-besar dan kurang lebih berumur 10 tahunan, pepohonan yang saling bercengkrama akrab di pagi hari itu, tak peduli dengan burung-burung yang hinggap ditubuhnya dan cuitan-cuitan anak burung yang sudah terbangun dari tidur semalam, nampaknya pohon itu menyukai orang-orang yang berlalu lalang untuk melaksanakan aktivitasnya masing-masing, termasuk Pak Daud.
“Aku sudah hampir 10 tahun melihat dia melewati sini dan wajahnya masih sangat cerah, walaupun sudah tua kira-kira dia siapa ya, masih dengan sepeda yang sama persis?” begitu ucap pohon.

Pak Daud masih mengayuh sepedanya dengan stabil sesekali beliau melihat pemandangan-pemandangan yang diberikan Allah swt melewati luasnya sawah dan hamparan padi yang sudah siap panen. Tidak habis pikir beliau dalam benaknya mengapa negeri yang kaya raya ini belum sepenuhnya merdeka, dia selalu berharap supaya generasi muda bisa hidup sejahtera dan bahagia di masa depan nanti, dan masih bisa menikmati sumber daya alam indonesia yang diberikan oleh Allah swt yang melimpah ini.

Dikejauhan tepatnya sebelah timur sudah mulai terlihat cahaya kekuningan nampaknya matahari sudah terbangun dan siap menjalankan tugas sehari-harinya memberi cahaya pada bumi dan untuk memberi penghidupan kepada penghuni bumi ini, burung-burung di sawah pun mulai berkicau dan berterbangan ke sana kemari menyambut kehadiran matahari yang menandakan bahwa hari sudah pagi. Embun-embun pagi sudah mulai berguguran dan menghilang entah kemana atau mungkin mereka bersembunyi untuk beristirahat menunggu malam datang lagi. dari kejauhan juga Pak Daud mendengar suara hewan peliharaan tetangga, yang saling bersahutan mulai dari, ayam, burung, bebek, kambing Dll.

Baca Juga:Rindu itu Masih Ada

Tidak hanya suara yang beliau dengar, nan jauh disana nampak terlihat ada pasukan baris berbaris dari ratusan bebek milik warga sekitar yang tengah berjalan ditengah-tengah sawah yang padinya sudah dipanen, seketika juga melihat gerumbulan ayam dengan anaknya yang kira-kira berjumlah 10 ekor sedang mencari makan.

Udara pagi menghempas tubuh Pak Daud yang sudah nampak mulai keluar keringat, kayuhan sepedanya sudah mulai melambat gerangan beliau melewati jembatan panjang sungai serayu yang menjadi batas dan penghubung antara kecamatan Kesugihan–Maos, begitu jernih air itu mengalir sembari membentuk gugusan-gugusan ombak kecil yang saling berkejaran diperindah dengan hamparan luas sungai, pohon dan kebun-kebun nan hijau ditepi sungai, burung-burung berterbangan diatas sungai yang mungkin sedang mencari makan, terkadang ada burung yang hinggap di beton-beton dan besi-besi jembatan rel kereta api, kemudian terbang lagi, di ujung sana terlihat muara sungai yang begitu luas dan terlihat banyak kapal nelayan dimuara itu.

Di bawahnya Pak Daud persis ada perahu para pencari pasir tengah beraktivitas, tak lama kemudian datanglah kereta api yang melintasi jembatan sungai serayu itu dengan suara khasnya. Setelah berhasil melintasi jembatan sungai serayu akhirnya beliau sampai kepada tempat tujuan yaitu MTs Nailul Anwar, sesekali muridnya menyapa selamat pagi kepada Pak Daud, Pak Daud pun memarkirkan sepeda tuanya kemudian bergegas menuju ke kantor untuk meletakan tas dan istirahat sejenak, ntahlah didalam kantor itu terdapat buku-buku yang sudah lama dan usang belum pernah tersentuh siapapun dan mereka ada yang menjadi saksi bisu kesetiaan Pak Daud yang sudah mengabdi hampir 15 Tahun di MTs ini.

############################################

Bel tanda masuk sekolah pun berbunyi Pak Daud menuju ke kelas paling ujung yaitu kelas 9a, beliau ada 1 mata pelajaran di sana kemudian beliau mengajar di kelas 9a ,7b ,7c , bel istirahat pun berbunyi sekitar jam setengah sepuluh, beliau tidak langsung menuju kantor namun menuju ke masjid yang dekat dengan sekolah untuk melaksanakan sholat sunnah dhuha, sebentar dia selesai sholat kemudian dia masuk kantor untuk beristirahat, hingga bel masuk pun berbunyi beliau pun segera masuk ke kelas, keramahan , kewibawaan dan humoris dari Pak Daud lah yang membuat siswa dan siswi tidak pernah bosan jika di ajar oleh beliau.

Adzan Dzuhur berbunyi dan siswa siswi terkecuali bagi perempuan yang berhalangan beristirahat untuk melaksanakan sholat dzuhur berjamaah di dekat masjid sekolah, hal ini memang sudah dijadikan budaya oleh sekolah MTs ini, selesai sholat pun masih ada satu mata pelajaran yang harus di laksanakan dan akhirnya selesai sudah kegiatan belajar mengajar di sekolah ini.

Waktu sudah menunjukan pukul 14:30 waktunya Pak Daud untuk bergegas mendekati sepeda tuanya untuk kemudian membawanya pulang ke rumah, dalam perjalanan suasana hampir sama seperti ketika dia berangkat, hanya saja kali ini beliau terasa lebih dekat dengan matahari karena sinar mataharinya cukup panas, sesampainya dirumah beliau beristirahat sambil duduk-duduk di teras rumah, lagi-lagi Pak Daud melihat bayangan masa lalu sekitar 50 tahun yang lalu, beliau melihat bayangan anak dan istrinya, persis yang dia kemukakan ketika lamunan sehabis wirid sholat shubuh, anak dan istrinya sedang bercengkrama dan bercandaan dengan mainan mobil-mobilan jeep kecil yang dia simpan di dalam lemari yang sampai saat ini masih ada.

Sangking rindunya terhadap anak dan istrinya beliau mengambil foto mereka berdua, hatinya terasa begitu hancur lebur dan air matanya tak terbendunng, melihat foto anak dan istrinya yang berada di album foto tersenyum manis, seakan akan menambah rasa kangen yang sudah tak tertahankan, sehingga dia memeluk album foto itu erat-erat.

“Allahu akbar, Allahu Akbar, allahu akbar, allahu akbar”

Suara adzan menggema di musholla ujung desa, dengan bergegas beliau mengganti baju dinas guru dengan koko dan sarung, lalu beliau berjalan ke musholla untuk melaksanakan sholat ashar berjama’ah, selesai sholat dia ada niatan untuk berziarah ke makam anak da istrinya, beliau berfikir kenapa dari kemarin bayangan anak dan istrinya yang sudah berbeda dunia selalu terngiang-ngiang, mungkin mereka rindu dengan beliau tanpa perpikir panjang lagi beliau bergegas menuju ke rumah untuk mengambil sepeda tua yang kebetulan jarak pemakaman itu cukup jauh dari rumah.

Ayuhan sepeda tua yang masih terasa angles (masih seperti baru rasanya) itu meluncur tanpa ada halangan, pandangan mata Pak Daud ke depan melewati jalan-jalan kampung, persawahan bahkan peternakan, hingga tiba pada suatu tempat yaitu pasar. Seketika Pak Daud pun berhenti sambil membeli buah-buahan dan melihat ke ujung pasar itu dengan penuh makna dan sesuatu yang tersembunyi, lagi-lagi tempat itu menjadi saksi bisu dan kenangan yang tidak bisa terlupakan, namun ditempat itu air mata beliau tidak keluar akan tetapi malah tersenyum, ya di tempat itu dulu dia bertemu dengan Bu Aisyah, yang tak lain adalah istri tercintanya.

Perkenalan mereka diawali ketika Pak Daud pulang kuliah kemudia disuruh orang tuanya ke Pasar, beliau memarkirkan sepeda disitu dan kemudian bu aisyah pun tanpa sengaja mau memarkirkan motornya disitu, namun bu aisyah terjatuh dari motornya karena hilang keseimbangan, dengan cepat Pak Daud membantu Bu Aisyah dan berkenalan disitu.

“Semua itu hanya kenangan yang tak akan dibawa mati namun inilah kehidupan, pada dasarnya semua akan kembali pada-Nya” Gumamnya dalam hati.

Pak Daud melanjutkan perjalanannya yang hanya tinggal melewati sawah, di sana kemudian sampai kepada makam anak dan istrinya yang ternyata letaknya juga dekat dengan sawah, karena waktu sudah semakin sore Pak Daud membersihkan makam anak dan istrinya kemudian membacakan Yasin dan Tahlil, Senja itu mulai tenggelam hembusan angin persawahan terasa cukup dingin lambaian pohon kamboja yang berdiri di pemakaman seakan mengucapkan terimakasih kepada Pak Daud yang sudah berkunjung ke makam, dan senja pun mulai tenggelam dengan cahaya mega merah yang mulai memudar serangga –serangg.

Sudah mulai bangun dan memainkan alat musik mereka menyambut malam tiba, dan Pak Daud mendengar suara adzan, kali ini Pak Daud memutuskan untuk sholat di desa tetagga.

Sepulang dari makam dan sudah melaksanakan sholat isya di desa tetangga beliau membuka lembar jawaban anak didiknya yang kebetulan tadi pagi beliau mengadakan ulangan harian, secangkir kopi dan suara serangga-serangga yang menemani malam Pak Daud, melihat hasil ulangan anak kelas 9a yang sebentar lagi mau UN Pak Daud cukup puas dan tenang, apa yang telah disampaikannya ternyata tidak sia-sia.

Paginya Pak Daud mendengar kabar bahwa muridnya 25 tahun yang lalu menjadi Bupati Cilacap dan ada yang menjadi Gubernur Jawa Tengah, dengan sangat bangga dan gembira beliau sujud syukur, walaupun mungkin anak didiknya itu sudah lupa sama beliau, tapi beliau tidak pernah berfikir kesitu, yang beliau tau mereka Bupati dan Gubernur yang pernah menjadi murid beliau.

Oleh: M. Aan Setiawan
Universitas Pamulang