October 5, 2022

Pembangkang Part V

Di kamar mungilnya, ia masih tergusur kedilemaan. Terbukti, semuanya ia lampiaskan perasaan itu pada benda-benda di sekitarnya. Tak secuilpun terbesit untuk mempertimbangkan mana barang yang harus dijadikan sebagai lampiasan dan bukan. Hanya spontan. Bahkan barang pemberian orang-orang terkasih habis diratakan di atas lantai.

Ia sebenarnya masih tak percaya dengan kabar burung. Sesekali ia pernah terjebak di antara keinginan dan kebutuhan, lalu mengikuti kabar burung untuk lebih memperhatikan keinginan. Di penghujung batas keinginan, ternyata itu hanya kekosongan belaka yang merenggut penghargaan terhadap diri, tak lebih sekadar membohongi diri sendiri.

Ia terus memikirkan ucapan Boulevar bagian ‘rahasia Tuhan’. Selama ini, yang ia tahu tentang rahasia Tuhan ialah bahwa Tuhan menciptakan semua alam semesta lalu pergi dan tidak mau tahu gerak gerik mereka karena semua ciptaannya sudah punya hukumnya sendiri. Lantas apa yang dilakukan Tuhan? “Tentu saja menumpahkan semua penderitaan, kesepian, dan dosa-Nya ke ciptaan-Nya,” ucapnya dalam hati.

Perasaan gengsi dan penasaran seperti menarik-narik tulang rusuknya. Sebenarnya ia tak mau membunuh kebenaran versi dirinya sendiri perihal Tuhan. Baginya, kebenaran adalah sebuah ide yang dilaksanakan dan sampai matipun ia akan mempertahankannya.

Apa jadinya kalau semua kebenaran yang dipertahankan sampai mati diolok-olok oleh keinginan, dan rasa penasaran serta keingintahuan?

“Tidak, aku akan tetap mempertahankan. Tapi tidak kali ini, demi kengintahuan dan penasaran, aku rela membunuh diriku sendiri,” ucapnya dengan penuh keyakinan.

Tersebutlah nama Tuhan dengan segala kegengsian. Tepat pada huruf terakhir asma-Nya, ia sudah tak sadarkan diri. Hembusan angin malam yang masuk lewat ventilasi kamar membawanya ke alam mimpi itu lagi. Dunia itu sudah tak sekabur dahulu. Sekarang lihatlah, ia sudah berdiri di gang Mattchan seorang diri. Kali ini, mimpinya tampak nyata kecuali pohon-pohon dan tanaman yang tampak aneh.

Tanpa sadar, semenjak kedatanganya, ternyata Boulevar sudah menunggunya. Ia sampai tak mengenali Boulevar yang tampak seperti buah Delima super jumbo. Ia baru sadar setelah Boulevar menjulurkan lidah najisnya.

“Cuiiihhh…ternyata kau. Apa yang telah kau lakukan pada gang ini, hah?”

“Hanya sedikit renovasi.”

“Anj*ng….”

“Kau tahu aku tak banyak waktu melayanimu anak muda, katakanlah apa yang membuatmu datang kemari?”

“Karena kau b*ngs*at, aku telah membunuh diriku sendiri. Kau telah memancingku ke lubang pengetahuan kelemahanku. Sekarang ceritakanlah apa maksudnya perkataanmu dahulu?”

“Siapa kau berani memerintahku seolah Tuhan? Apa kau berani menjamin keselamatanku? Kau hanya makhluk tak berguna yang merampas kemuliaan Iblis. Kau hanya perusak.”

“Kau masih saja diperdaya oleh ketakutanmu sendiri. Baiklah, apapun akan kulakukan demi pengetahuan itu. Katakanlah, apa yang harus aku lakukan?”

“Hmmmm, kau terlalu nekat anak muda.”

“Tak apa, asal tak ceroboh.”

“Kemana saja kau, sudah lama kau tak bermimpi. Ketidakadaanmu di duniaku membuat kau dicampakkan oleh pengetahuan itu.”

“Apa itu?”

“Sudahlah anak muda. Rahasia itu tak ada. Pengetahuan itu juga tak pernah ada. Semua sudah raib.”

“Apa lagi ini?”

“Hentikanlah kebencianmu terhadap Tuhan itu. Sudah tak ada gunanya lagi. Tuhan telah mati dan manusia telah membunuhnya. Tuhan sudah mati saat manusia sadar ternyata merekalah yang menciptakan Tuhan, bukan sebaliknya. Dengan matinya Tuhan, mati pula ide-ide dan kebenaran-kebenaran universal.”

“What the f*ck….Bagaimana Tuhan mati?”

“Kau tahu sendiri bagaimana pencerahan manusia dan kehebatan sains yang mampu menjelaskan segalanya telah membunuh-Nya. Manusia- manusia yang merasa dirinya bertuhan juga telah menikam- Nya dari belakang lantaran perilakunya tak pernah sama sekali mencerminkan orang bertuhan.”

Ia tertampar dan membeku mendengar penjelasan Boulevar. Kadang muncul perasaan senang karena Tuhan telah terbunuh.

“ Baguslah kalau Tuhan sudah mati. Dengan kematian- Nya, terbukalah horison seluas- luasnya bagi segala energi kreatif untuk berkembang. Tak ada lagi tuh kecengengan yang transendental. Yang jelas, tak ada lagi manusia pengecut yang melarikan diri dari dunianya dengan berlindung di bawah naungan Tuhan,” terangnya penuh kesombongan.

Sejak saat itu, ia dan Boulevar jadi teman baik karena penjelasannya membuat ia satu frekuensi dan searah dengannya. Rasanya, ia ingin berlama- lama dengan dunia Boulevar.

“Hei… lantas kalau enggak ada Tuhan, apa yang akan terjadi dengan ciptaanya?”
.
.
_Bersambung

Baca: Pembangkang Part IV