September 29, 2022

Pembangkang Part III

Kamu pasti sudah tahu alasanku kemari.

Rupamu kabur.

Itu karena dalam benakmu masih menolak dan menyerah pada ketakutanmu.

Kau tahu apa tentangku? Kau hanyalah makhluk Tuhan yang diciptakan saat Dia sedang murka. Kau tak lebih dari kotoran kuku; menempel seolah tak ada tempat lagi di dunia ini.

Rupaku tidaklah serendah yang kau bayangkan. Aku bukanlah definisi yang kau buat. Telitilah! Manusia-manusia di sekitarmu itu bukan manusia. Kata “manusia” hanyalah sebuah kesepakatan sosial hanya agar lebih mempermudah dalam komunikasi.

Apa maksudmu, makhluk laknat?

Ingat, kau masih di dalam mimpi buruk ini dan kau sendiri yang mengklaim bahwa ini adalah mimpi burukmu. Akanku jelaskan satu soalan yang mungkin akan kau ingat setelah bangun.

Siapa kau yang sok-sokan bisa memutuskan hal apa yang akan aku ingat? Cuiiihhhh….

Ruang hampa.

Apa maksudmu?

Kau tentu sering membayangkan ruang hampa bukan? Kalau iya, aku akan mulai dari situ. Jauh sebelum kehidupan, ruang hampa adalah penyebab adanya alam ini. Ruang hampa ada sebelum adanya manusia, apalagi pikiran. Kau bisa mengisi apa saja di ruang hampa itu, benda, pikiran, ingatan, kesenangan, kesengsaraan. Tapi kesucian ruang hampa tak bisa tersentuh barang sedikitpun. Bahkan makhluk paling terkecil pun tak sanggup menyentuhnya. Ada yang bilang itu adalah Tuhan.

Maksudmu, selama ini yang aku sembah adalah ruang hampa? Tidak sia-sia aku membenci Tuhan.

Bukan itu maksudku. Ruang hampa hanya sebuah adagium. Kalau aku ceritapun akalmu akan pecah.

Saya tidak peduli. Saya tidak akan takut dengan ancaman sampah Tuhan seperti itu. Ayoo! Ceritakanlah!

Itulah sebabnya aku terkutuk seperti ini. Salah satu penyebabnya adalah menceritakan salah satu rahasia Tuhan.

Bullshiiitttt….!!!

Ia terbangun dan terjatuh dari ranjangnya.

(Baca: Pembangkang Part II)

_Bersambung.._

You may have missed