September 29, 2022

Mahasiswa selalu Salah di Mata Dosen Killer

literaturcorner.com – Beberapa tempo yang lalu, saya dikejutkan dengan salah satu chatan di salah satu grup wasap antar mahasiswa dan dosen. Kebetulan yang mengirim chatan tersebut adalah dosen yang diam-diam saya anggap musuh masa depan. Lebih parahnya lagi, teman di samping saya yang tengah asyik main Mobile Legend pun ikut terkaget-kaget melihat kekagetan saya. Bagaimana tidak, chatan dosen saya itu seperti sebuah pemberitahuan bahwa Jafar si perdana menteri yang licik pada film Alladin itu akan kembali bangkit dan keluar dari labu hitam ajaib itu. Oh iya, apa kabar ya dia sekarang di gua terkutuk itu?

Chatan itu adalah sebuah link yang merujuk pada status facebook milik Hendy Mustika Aji yang menerima like lebih dari seribu. Isi statusnya ya biasa, kayak bocah-bocah SMP yang baperan dan tidak mikir panjang. Di situ tertulis, dia sedang menyindir atau lebih tepatnya menyalahkan mahasiswa. Sebelumnya, saya berterima kasih juga pada Bapak Hendy Mustika Aji yang sudah peduli dengan kami para mahasiswa (terutama mahasiswa para pemburu seminar, haha). Berkat beliau saya jadi mendapat ilham dan hidayah untuk tetap skeptis pada diri saya sendiri. Kalau tulisannya itu saya baca pada saat masih akhir bulan puasa mungkin tulisan tersebut adalah penjelmaan dari Lailatul Qodr. Sayangnya, tautan itu dikirim pada 9 Juni 2019, empat hari setelah lebaran.

Tulisan beliau itu diawali dengan mengutip data dari BPS (bagi yang belum tahu kepanjangan BPS; Badan Pusing Sekali, wqwq) dengan title Tingkat Pengangguran Diploma dan Sarjana yang meningkat. Ternyata Bapak Hendy ini perhatian sekali, ya.

Dalam data tersebut dituliskan penyebab banyak Sarjana dan Diploma yang menganggur adalah; pertama, skill yang dimiliki lulusan Diploma dan Sarjana enggak dibutuhkan industri. Kedua, mereka minta gaji ketinggian. Ketiga, sedikit industri yang mau memperkerjakan mereka.

Beliau kemudian memberi komentar pada faktor-faktor di atas berdasarkan observasi pada mahasiswa yang diajarkannya pada bidang Manajemen. “Kebanyakan mereka itu masih belum dewasa, masih seperti anak SMA yang belum paham makna tanggung jawab. Kuliah hanya ikut-ikutan tren (teman) dan sekadar gaya-gayaan. Orientasi mereka, yang penting dapat ijazah dan nanti dapat gelar SARJANA padahal gak pernah berproses. Wisuda foto-foto lempar toga segala, merasa telah jadi sarjana, padahal selama kuliah ga belajar apa-apa dan gak paham apa-apa,” tulisnya.

Tahaaaan, Pak. Tahaann kemarahan Anda. Saya tahu kok perasaanmu padanya. Eh, kok jadi ke situ.

Sekarang jadi tahu, kan. Pak Hendy itu orang baik. Dia lulusan Manajemen, lho. Jadi gini, Pak Hendy ini ternyata kesal pada mahasiswa-mahasiswanya yang tidak memperhatikan beliau ketika menjelaskan. Kesal melihat mahasiswinya yang sok cantik, sok-sokan ngikut tren. (Pantes aja kagak disukain ama mahasiswanya pak. Kurang asyik sih bapaknya).

Tapi selain menyalahkan mahasiswanya, ternyata dia juga menyanjung dan mengapresiasi salah satu bakat terpendam yang semua mahasiswa memilikinya. “Selama 3-4 tahun kuliah, skill terhebat yang mereka kuasai adalah main handpone di dalam kelas ketika sedang kuliah (padahal kuliahnya tidak membutuhkan perangkat). Atau skill plagiat copy paste google ketika mengerjakan tugas yg bs selesai sehari semalam. Atau skill berkamuflase ala ninja konoha ketika ujian sehingga gak ketahuan mencontek. Skill itu tidak dibutuhkan industri. Kecuali mungkin industri penjahat,” tulisnya lagi.

Sekadar info bagi mahasiswa yang mau kerja, tuh ada pemberitahuan dari Pak Hendy kalau industri penjahat lagi butuh para new employee. Wqwq

Mari kita berpikir secara objektif dan bijaksana. Masalah Bapak Hendy hanya satu. Tidak mau berpikir komprehensif dan universal. Sebelum menyalahkan mahasiswa yang ahli plagiat ini, seharusnya beliau mengamalkan ilmu Manajemennya. Dimana dalam ilmu manajemen ada semacam analisis swot, kekuatan, kelemahan, hambatan, dan peluangnya apa pada mahasiswa-mahasiswa edan itu. Lalu ada analisis strategi, manajemen SDM, dan lain-lain. Ketika mahasiswa seperti kita-kita ini yang jago bermain smartphone, kira-kira kenapa? Apakah dosennya dalam mengajar masih konservatif. Masih menggunakan power point yang terlalu power tapi tidak ada poinnya. Kemudian kalau sudah mahasiswanya kayak gini, stategi selanjutnya seperti apa. Kenapa mahasiswa-mahasiwa suka copy paste. Atau mungkin kekurangan kopi, kali. Apa mungkin cara dosen ngajar tidak menarik sehingga tidak ada nafsu dan niat buat mendengar. Dan seterusnya, belum dari segi psikologisnya, sosiologis, kultur, backround.

Saya rasa, Pak Hendy mugkin sengaja menulis status facebook yang seperti itu untuk observasi pada netizen yang mau berkomentar jahat. Atau beliau terlalu banyak ilmunya sehingga lupa pada situasi seperti apa untuk mengaplikasikan ilmunya. Atau mungkin itu adalah salah satu bentuk naluri ke-netizen-annya. Wallahua’lam.

Yang menarik dari akhir tulisan statusnya Pak Hendy adalah beliau mengutip salah satu firman Allah swt pada Q.S. Ar-ra’d: 11 yang mengatakan, “sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sampai mereka merubah keadaan pada diri mereka sendiri.” Subhanallah Pak Hendy ini, ternyata selain sebagai intelektualis juga religius.

Tak heran dosen saya meneruskan status facebook Pak Hendy yang bermutu itu ke grup dosen dan mahasiswa dengan ikut-ikutan menjadi netizen seperti pada komentarnya, “faktanya sekarang banyk mhs bukan untuk mencari ilmu tp hanya mencari gelar, dikelas bukannya belajar tp main hp giliran kerja performance nya ???” Gilaaa, cepat sekali menularnya.

Penulis: Rizki MS
Note: Tulisan di atas sudah dimuat tidak lama setelah lebaran di media bacot.com dengan judul yang sedikit berbeda.

You may have missed