December 8, 2022

Konsep Pendidikan Masa Depan Berbasis Teknologi Sebagai Upaya Peningkatan Kredibilitas Menuju Dunia Baru

literaturcorner.com – Berbicara mengenai pendidikan, dilansir dari Silabus Media Pendidikan Indonesia yang diterbitkan oleh Hajar Dewantoro tiga tahun lalu, pendidikan merupakan sebuah proses dalam rangka memengaruhi peserta didik supaya mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin dengan lingkungannya serta dengan demikian akan menimbulkan perubahan-perubahan dalam dirinya yang memungkinkan pendidikan tersebut berfungsi dalam kehidupan bermasyarakat.

Sejalan dengan hal tersebut, Hajar Dewantoro pun menambahkkan, bahwa pada dasarnya pertumbuhan peserta didik bergantung pada dua unsur yang saling memengaruhi, yakni bakat yang dimiliki oleh peserta didik sejak lahir dan lingkungan yang memengaruhi hingga bakat itu tumbuh dan berkembang.

Rulam Ahmadi, 2014:32 dalam artikel yang ditulis oleh Hajar Dewantoro mengatakan, pendidikan dalam arti luas pada dasarnya mencakup seluruhnya peristiwa pendidikan mulai dari peristiwa pendidikan yang direncanakan secara terprogram hingga pendidikan yang berlangsung secara alami. Berjalan dengan hal tersebut, konsep pendidikan nasional yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewatara yang sangat membumi dan berakar pada budaya nusantara, antara lain tutwuri handayani, “tripusat” pendidikan (keluarga, sekolah, masyarakat).

Berangkat dari konsep yang diusung oleh Ki Hadjar Dewantara, menurut penulis, konsep tersebut harus ditambah dengan menerapkan konsep teknologi. hal ini sesuai dengan artikel yang ditulis Euis Rita Hartati tahun 2016, dalam artikel tersebut, Indra menjelaskan salah satu cara mengatasi ketertinggalan pendidikan Indonesia dengan menerapkan STEM (Science, Technology, Enginering, and Math), sebuah model pembelajaran populer dunia yang efektif dalam menerapkan pembelajaran tematik integratif karena menggabungkan empat bidang pokok dalam pendidikan, yaitu ilmu pengetahuan, teknologi, matematika, dan enjinering.

Dari banyaknya konsep yang diusung untuk memajukan pendidikan Indonesia, peneliti akan fokus pada teknologi yang akan menjadi dasar dari pembaruan pendidikan di Indonesia.
Kemakmuran suatu bangsa bisa ditentukan oleh tingkat pendidikannya, suatu bangsa yang pendidikannya maju, tentunya kemakmurannya juga maju. Sebab, pendidikan merupakan suatu proses yang berjangka panjang. Di era 4.0 teknologi sebenarnya bukan saja bisa dinikmati untuk sebagai ajang mempromosikan keunggulannya, tapi bagaimana bisa memanfaatkan di berbagai sektor yang sampai saat ini masih belum terealisasikan dengan baik dan benar dalam hal memanfaatkannya.

Dengan adanya teknologi yang semakin maju, seharusnya yang dilakukan pemerintah pusat memantau dan terus mengedukasi kepada masyarakat awam utuk memanfatkan teknologi dengan sebaik mungkin. Terutama dalam bidang pendidikan terlebih dahulu, sebab dunia perubahan dimulai dari seberapa baik sistem dan konsep pendidikan yang diberlakukan.

Dilihat dari sarana pembaruan dalam bidang teknologi pendidikan saat ini sangat dibutuhkan kepekaan dalam subordinasi antara pemerintah pusat dengan masyarakat yang bertujuan untuk menciptakan pembelajaran yang efektif, oleh karenanya, perlu adanya kolaborasi antara guru dan siswa.

Bangsa Indonesia tengah memasuki revolusi digital, pemanfaatan dan penggunaa Internet Of Things (IoT) akan secepatnya merubah pola pikir kehidupan manusia. Di masa yang akan datang, anak didik selain bisa belajar di sekolah, murid juga bisa belajar dimana saja.

Menurut peneliti, yang sekarang terjadi di lapangan dunia pendidikan, guru masih belum terlalu peduli dengan minat dan bakat para murid, guru terlalu cenderung melaksanakan kewajibannya sebagai pengajar hanya untuk mentransformasikan ilmunya kepada siswanya tanpa mengetahui latar belakang karakter dan minat anak didiknya. Di samping hal tersebut, guru seharusnya lebih jeli lagi dalam memahami bagaimana konsep yang tepat dalam menyampaikan silabus pembelajaran yang sesuai dengan karakter siswa agar tidak terlalu monoton dan nantinya membuat anak didik cenderung bosan dan malas dalam mengikuti pembelajaran.

Menciptakan hal baru dalam sistem pembelajaran sebaiknya dimulai dari anak dini, bisa dimulai dari pembentukan karakter sampai menemukan minat dan bakat. Sebab, interaksi pikiran siswa setiap hari bisa menimbulkan suatu pengalaman yang nantinya menjadi pengaruh utama dalam pembentukan sistem pembelajaran. Dengan timbulnya interaksi yang sudah dipupuk oleh kebiasaan kegiatan sehari-hari, siswa akan mulai sadar dan belajar dari pengalaman seorang pengajar, bahwa sebagai pelajar tidak hanya mengerjakan tugas (PR) dari guru, tidak hanya belajar dari kehidupan sosial kebudayaan di ruang kelas, tapi yang paling penting adalah bagaimana siswa bisa menghormati guru.

Penelitian Cambridge International melalui Global Education Census 2018 yang ditulis oleh Ellen Brooks tahun 2019 menunjukkan bahwa, para siswa Indonesia sangat akrab dengan teknologi, bukan hanya dalam berinteraksi di media sosial tapi juga untuk kebutuhan pembelajaran. Hasil penelitian tersebut bahkan menyebut siswa Indonesia menduduki peringkat tertinggi secara global selaku pengguna ruang IT/komputer di sekolah (40 persen). Lebih dari dua pertiganya (67 persen) menggunakan smart phone di dalam kelas, dan 81 persen untuk mengerjakan perkerjaan rumah (PR).

Hadirnya kemajuan teknologi saat ini sebenarnya suatu langkah tepat untuk bertahap menyesuaikan sistem pembelajaran dalam menyampaikan bentuk materi-materi pelajaran yang bisa dijelaskan dengan memanfaatkan visualisasi berupa video, audio, atau image (gambar) yang nantinya dijadikan sebuah bentuk tutorial sebagai produk baru dalam menggantikan cara pembelajaran konvensional.

Sebenarnya konsep pembelajaran dengan memanfaatkan visualisasi telah ketinggalan zaman, tapi dengan adanya upaya memperkenalkan kepada murid-murid dengan keadaan SDM yang “kurang”, hal ini bisa dikatakan telah menjadi awal perubahan yang luar biasa. Sebuah upaya peningkatan kredibilitas menuju dunia baru dengan perkembangan teknologi yang sangat maju di era ini akan merubah sedikit pembelajaran, siswa bisa belajar dimana saja tanpa terikat oleh ruang dan waktu dengan sosok guru yang akan menjadi fasilitator maupun motivator, sehingga untuk kedepannya bangsa Indonesia masih sangat membutuhkan lebih banyak lagi pembangunan start-up dalam bidang pendidikan guna menyeimbangi perkembanan teknologi saat ini.

Salah satu contoh gamblang dari perkembangan dunia teknologi di bidang pendidikan yang telah banyak digunakan adalah seperti Ruang Guru. Dari perkembangan teknologi yang mencakup pendidikan juga perlu adanya sebuah pertumbuhan literasi dan metode yang sesuai dengan keadaan siswa zaman sekarang, dibutuhkan pendamping yang benar-benar bisa menyadarkan dan membimbing secara penuh selama waktu pembelajaran. Maka dari konsep tersebut, peran yang paling utama dalam membentuk karakter anak terletak pada keluarga, sebab keluarga merupakan pendidikan pertama yang diterima oleh anak.

Dunia Revolusi Industri 4.0

Keunggulan di bidang teknologi sering membuat kita lupa dan lalai bawah masih banyak masyarakat di bawah yang belum bisa merasakannya. Seperti halnya yang terjadi sekarang, adanya pandemi covid-19 inilah pendidikan bangsa indonesia diuji betul-betul dalam melaksanakan konsep pembelajran daring pertama kalinya, sosok guru dihadapkan dengan hal baru yang mana pembelajaran bisa terjadi dimana-mana. Di lain sisi, Federasi Serikat Guru Indonesia menyakatan sebanyak 68.265.784 siswa dan 3,2 juta guru terdampak wabah corona, yang harus melakukan belajar dan mengajar di rumah.

Dari survei yang dilakukan FSGI dan KPAI di bulan April, siswa didapati merasa terbebani dengan metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang sudah diterapkan guru. Kemampuan guru dianggap masih minim dalam mengelola pembelajaran daring. Selain itu pembelajaran daring hanya efektif di daerah yang mempunyai akses internet merata. Sedangkan tidak semua daerah bisa menyediakan akses internet ke seluruh siswa.

Tantangan dan peluang untuk mencapai kesuksesan bidang pendidikan dalam sebuah negara tidak akan lepas dari peran dan kontribusi antar guru dan siswa. Dengan bermodal kekayaan intelektual bisa menjadi kontribusi paling penting dalam menyongsong dunia industri di masa depan. Harapan akan pondasi pendidikan hal yang diutamakan, salah satunya untuk mengatasi problem-problem, seperti pendidikan yang kurikulumnya bisa berubah sesuai kebutuhan.

Konsep pembelajaran secara face to face memang ada positifnya jika digabungkan dengan teknologi dengan potensi sekarang. Artinya perpaduan antara prosedur pembelajaran bagi anak usia dini bisa di gabungkan dengan mengenalkan teknologi sekarang. Dengan begitu anak didik sekarang bisa lebih memahami lagi bahwasannya teknologi isinya bukan main game saja, tapi juga ada yang lebih manfaat, salah satunya mengenai edukasi pendidikan.

Jika memang edukasi pendidikan bisa dimulai dari teknologi yang semakin hari banyak kelebihannya, maka sebuah cara untuk memperkenalkannya pun harus ditempuh demi sebuah kemajuan kecerdasan otak setiap individu, salah satu caranya adalah dengan mensosialisasikan cara kerja teknologi di dunia pendidikan. Di sinilah peran pemerintah sebagai fasilitator dalam pemberdayaan manusia.

Implementasi pembelajaran online learning menjadi modal utama pembelajaran bagi guru dan siswa agar lebih efektif lagi dalam menggunakan tekologi. Dari banyaknya cara kerja yang ditempuh dalam memajukan pendidikan Indonesia, perlu digaris bahwa secanggih apapun teknologi sekarang, pada akhirnya yang benar-benar akan menjadi perubahan adalah orang tua atau guru.
.
.
Penulis: Moh. Khabib al-Fatah (Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jakarta)