October 5, 2022

Ikhtiar Menyembuhkan dari Corona Virus Disease-19

literaturcorner.com – Kurun dua minggu terakhir saya mendapatkan ijazah sebanyak 7 rumusan doa-doa dari para kiai untuk menghalau Covid-19 (Corona Virus Disease-19) pada beberapa halaqah pengajian yang saya ikuti. Namun di sini saya tidak mendapatkan perasaan tenang sebab hanya berdoa, malah saya merasa akan lebih berdosa jika merujuk orang lain untuk berdoa tanpa memberi solusi yang tepat baginya.

Asumsi dasar saya bahwa para kiai ini adalah orang-orang yang sangat berpengaruh bagi ummat di sekitarnya. Termasuk kepada saya yang mengikuti beberapa halaqah kemarin. Tetapi kesemua dari halaqah yang saya ikuti memang hanya disampaikan maksud tujuan dari berdoanya saja.

Saya pikir demikian adalah penjelasan yang kurang lengkap, maka kiranya perlu menambahkan melalui tulisan ini. Semoga lebih jelas menyampaikan kepada pembaca terkait penanggulangan Covid-19 dari pribadi sebagai tanggungjawab mahasiswa. Karena bahayanya serius jika pendengar awam memahami secara tekstual dari yang didapatkannya. Apalagi sampai berasumsi yang nyeleneh dan ngawur. Seperti pernyataan bahwa virus ini adalah adzab dari Tuhan dan semacamnya, yang mencerminkan hilangnya kasih sayang Tuhan atas kita (manusia).

Dari buku Tafsir Al-Qur’an Bahasa Koran karya KH. Musta’in Syafi’i dalam bahasan tafsir ayat إيّاك نعبد وإيّاك نستعيْن yang artinya “hanya” kepadamu kami menyembah dan “hanya” kepadamu kami memohon pertolongan. Dalam ilmu balaghah ini disebut faedah حصر, artinya pembatasan makna. Sehingga penafsirannya tidak meluas kepada terma-terma lain dan menunjukkan bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan objek berdo’a.

Kemudian didahulukannya kata kerja menyembah dan baru minta tolong yang mengajarkan bahwa ikhtiar harus lebih didahulukan daripada berdo’a. Jadi jangan dibalik atau bahaya jika hanya dikerjakan salah satunya saja.

Bahwa hal ikhtiar penanggulangan penularan Covid-19 ini penting dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat yang dapat menstabilkan imunitas dalam tubuh. Begini kata Dr. M. Makky Zamzami dalam wawancaranya dengan NU Online, Jumat (13/3) di Jakarta, “Jangan terlalu panik selama kita bisa hidup sehat dalam hal ini menjaga imunitas tubuh. Karena virus itu kuncinya satu, imunitas. Virus apa pun baik flu, demam berdarah, kuncinya satu, imunitas.” Karena secara alamiah tubuh manusia mampu menciptakan sistem imun-nya sendiri dalam tubuh untuk mematikan virus.

Pun demikian, menilik imbauan dari pemerintah pusat terkait kerja, belajar dan beribadah di rumah. Bermaksud sama, sebagai ikhtiar untuk mencegah penularan lebih cepat virus Covid-19 ini. Selain memang masa inkubasi virus ini sama dengan Influenza yakni selama 14 hari. Maka patut diperhitungkan pemerintah mengeluarkan kebijakan yang demikian. Pun demikian sesuai dengan perintah Rasullullah SAW;
“أَنَّ عُمَرَ، خَرَجَ إِلَى الشَّأْمِ، فَلَمَّا كَانَ بِسَرْغَ بَلَغَهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّأْمِ، فَأَخْبَرَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ “‏ إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ ‏”‏‏
Artinya: “Umar sedang dalam perjalanan menuju Syam, saat sampai di wilayah bernama Sargh. Saat itu Umar mendapat kabar adanya wabah di wilayah Syam. Abdurrahman bin Auf kemudian mengatakan pada Umar jika Nabi Muhammad SAW pernah berkata, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhori).

Sebagai pencegahan, mari melakukan pola hidup sehat untuk menjaga kestabilan imunitas dalam tubuh. Sebagai syarat utama imunitas tubuh menjadi kuat adalah dengan tidur yang cukup, mengkonsumsi makanan bergizi, melakukan aktivitas yang tidak terlalu berat, dan menghindari stres. Sekalipun sudah terjangkit, tetaplah semangat sebab hidup sehat tersebut akan mempercepat hilangnya virus dalam tubuh. Kemudian, jangan lupa juga untuk berdoa agar diberi kesembuhan oleh sang maha menyembuhkan.

.

.

~Rofiqul Hidayat (Mahasiswa PAI UNUSIA Jakarta)