October 5, 2022

Hujan Kenangan di Alun-alun Kota Cilacap

literaturcorner.com, cerpen – Hujan selalu menjadi drama bagi dua sejoli yang terpisahkan oleh jarak nan jauh dan waktu, pahitnya rindu yang tidak bisa terobati dengan perkembangan zaman, chatingan via media sosial atau video call. Semua akan kalah dengan apa yang namanya pertemuan.
Dua pasangan sejoli sedang duduk-duduk santai siang itu di bawah pohon rindang, yang entah usianya sudah berapa ratusan tahun, bagi pohon mungkin kehadiran pasangan itu sudah menjadi hal yang biasa karena sudah jutaan bahkan milyaran pasangan berkunjung ke alun-alun kota ini. Bahkan mungkin kalau pohon itu bisa bicara dia akan mengatakan kalian berjodoh dan kalian tidak berjodoh, sepertinya pohon ini sangat paham akan masa depan apalagi tentang perjodohan, pohon rindang itu hanya memberikan kode-kode alam yang mungkin manusia tidak pernah paham akan hal itu.

Pohon rindang itu selalu menyaksikan hiruk pikuk sibuknya pusat pemerintahan Kabupaten, kadang jika pagi, melihat upacara bendera para yang empunya kekuasaan di daerah ini, para pengamen yang sedang istirahat sambil menghitung uang receh hasil ngamennya, anak-anak SD yang baru pulang sekolah untuk sekedar istirahat membeli jajanan di sekitaran alun-alun dan kadang melihat para pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya, bukan untuk menjadikannya kaya tentunya, akan tetapi untuk bisa bertahan hidup dari kerasnya kehidupan memberikan nafkah ke anak-anak dan istrinya, kadang pohon bertanya, kenapa ketimpangan dalam alam manusia begitu melukai hati, yang kaya tambah kaya dan yang miskin tambah miskin, siapa yang disalahkan? Yang empunya kekuasaan yaitu sistem atau takdir.

Masih sangat bersyukur aku diciptakan menjadi pohon sehingga tidak merasakan ketimpangan itu, sahut si pohon. Pohon ini juga sering melihat kisah pilu anak manusia dari berbagai cerita, percintaan, sosial dan kekeluargaan.

Siang ini gerimis datang. Matahari yang tadinya memberikan energi cahaya panas nan gagah untuk menghidupi apa yang ada dalam pandangannya, kini harus kalah dengan gumpalan-gumpalan awan hitam nan pekat bak kehancuran dalam hati seseorang melihat kenyataan bahwa dirinya ditinggalkan oleh kekasih yang sangat dicintainya.

Muncul suara gertakan-gertakan petir yang menggelegar, di dalam dongeng petir itu adalah Tuhan yang sedang memotret setan, bahkan ada yang bilang para malaikat sedang berkelahi, entah apa dongengnya yang pasti suara petir itu sangat seram dan mengerikan, bak percikan api yang keluar dari kabel listrik karena kerusakan sistem.

Hujan pun lantas turun dengan derasnya di daerah itu, sepasang sejoli tadi yaitu Lestari dan Teguh masih bertahan di derasnya hujan langit alun-alun Kota Cilacap, entah apa yang mereka pikirkan saat itu ketika hujan, bukannya berteduh malah seperti menantang hujan. Butiran air hujan yang berkali-kali menghantam mereka tak mereka pedulikan, atau mereka ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa cinta mereka mampu mengalahkan semuanya termasuk hujan itu, atau barangkali mungkin hujan ini tidak merestui hubungan mereka lalu mengusir mereka, entahlah.

Butiran hujan itu menghantam segalanya yang ada di sekitarnya, menghantam pohon kemudian jatuh ke ranting-ranting lalu menggugurkan daun yang sudah tua, bahkan bunga-bunga nan indah dan cantik menjadi rusak karena derasnya tekanan air hujan yang selalu datang keroyokan, kadang menimbulkan genangan-genangan kecil bahkan sampai membesar.

Hujan, selalu menyedihkan dan membawa kenangan Cetus Lestari ditengah derasnya Hujan. Kenangan, seperti halnya kisah-kisah para manusia yang lainnya yang ditinggalkan pasti akan meninggalkan sebuah kenangan yang kadang sulit untuk dilupakan. Ah kenangan dan hujan, masih saja menjadi hal yang romantis akan tetapi lumayan lebay. Kadang melihat hujan dari dalam rumah lewat kaca jendela menjadi hal yang sering dilakukan oleh orang yang tengah jatuh cinta, melihat jatuhnya air dan ingatan terhadap kekasihnya yang jauh di sana, atau memang ketika hujan turun, 1% genangan dan 99% kenangan. Kadang orang mampu mengeluarkan kata-kata dan merangkai kata indah di saat jatuh cinta bahkan patah hati sekalipun.

Maksudnya ?? Ujar Teguh. Kamu tahu? Hujan selalu meningatkanku pada dirimu dikalau kau jauh di sana, kelak jika kau kembali lagi ke tanah kelahiran ini, kuharap kita bisa melihat hujan ini bersama lagi, di tempat ini dan di waktu yang sama. Dan perlu kau tahu juga sayang, titik air hujan yang jatuh ke bumi adalah rasa rinduku padamu. Derasnya hujan adalah pertanda bahwa itu air mataku yang bercampur dengan hujan karena merindukanmu, dan petir yang menggelegar adalah rasa gelisah dan uring-uringanku terhadapmu. Aku adalah pengagum hujan.

Kau aneh sekali sayang, harusnya kau menyukai senja, seorang penulis favoritku Sungging Raga saja adalah penggemar senja, kamu tahu, gara-gara hujan Ibu Kota kita tercinta menjadi banjir dan buruk di mata dunia, ujar Teguh pada kekasihnya itu.
Aku menyukai hujan karena hujan itu mampu mewakili rasa rinduku padamu sayang, Sahut Lestari.

Hujan masih saja terus turun tanpa memperdulikan mereka yang sudah mulai basah kuyup dan menggigil kedinginan, bahkan senja sore itu tidak terlihat hingga malam pun datang. Hari ini adalah hari terakhir pertemuan mereka. Esok pagi Teguh harus pergi ke stasiun kereta api Maos untuk mencari penghidupan di Bandung dengan menaiki kereta api Pasundan.

Alun-alun Cilacap selalu menyajikan panggung-panggung drama kehidupan. Di ujung sana terlihat berdiri bangunan-bangunan mewah, kerlap-kerlip lampu kapal PT Pertamina, pabrik semen dan pepohonan yang rindang, di sudut sana begitu banyak lalu lalang kendaraan, di sebelah utara terlihat gedung pusat perbelanjaan nan mewah dan bertingkat.

Alun-alun Cilacap menjadi tempat favorit bagi para warga sekitar bahkan para warga yang baru pulang dari perantauan untuk sejenak melepas rindu kepada kampung halaman, berkunjung dengan kekasih, dengan teman maupun sahabat. Bahkan dari sekitar manusia di sana mempunyai pengalaman dan kenangan yang tak terlupakan seperti yang dialami oleh Teguh dan Tari ketika hujan sore itu.

Siang ini Teguh , Anak dan Istrinya ingin berkunjung ke Pantai Teluk Penyu yang jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggalnya di Kecamatan Karangpucung. Ya hampir bisa menempuh waktu sekitar 3 jam lebih, Teguh memutuskan untuk naik mobil pribadinya.
Sudah lama Teguh tidak berkunjung ke Pantai Teluk Penyu yang berada di Kota Cilacap, bahkan dia lupa kapan terakhir berkunjung. Kebetulan Teguh dapat jatah libur satu minggu dari perusahaannya di Jakarta karena mengambil cuti, dia sudah berada di Karangpucung tempat tinggalnya satu hari yang lalu, kini saatnya Teguh mencari hiburan untuk melepas semua penatnya aktivitas di Ibu Kota, bisingnya, macetnya, polusinya bahkan ramainya Kota Jakarta tentu saja berbeda dengan ramainya Kampung Halaman.

Teguh melewati hutan luas di kawasan Kubangkangkung di Kecamatan Kawunganten dengan jalan yang berkelak-kelok tajam diiringi pemandangan hutan Pinus nan hijau dan lebat, sesekali melihat kanan dan kiri warung-warung gubuk sederhana dengan berbagai macam menu andalan dan es degan (Kelapa Muda).

Teguh masih terus menerobos jalan melewati alas Kubangkangkung, melewati Kecamatan Jeruk Legi dan Bandar Udara Tunggul Wulung yang diselingi dengan hamparan rumput hijau lapangan golf di sisi bandara, Teguh terus mengemudikan mobilnya hingga sampailah di pusat Kota Cilacap, yang artinya beberapa ratus meter lagi akan melewati alun-alun Cilacap.

Suasana Alun-alun Cilacap tak begitu ramai hari itu, tak terasa tiba-tiba langit mendung dan langsung jujan deras di alun-alun Cilacap, Teguh yang mengerem mobilnya pelan-pelan yang tepat di depannya ada lampu merah, mobil Teguh pun berhenti.

Teguh melihat hamparan hujan deras di pohon rindang, sepasang kekasih tengah duduk bersama di tengah hujan yang melanda, dan mobil Teguh pun tidak bisa berjalan lagi di dekat alun-alun Kota.

Lampu merah berubah menjadi hijau. Mobil Teguh tak urung berjalan, pengemudi di belakangnya sudah membunyikan klakson mobil dari tadi, nampaknya mobil itu tidak kunjung mau jalan, apakah mobil itu mogok, ataukah memang mobil itu mempunyai kekasih juga, yaitu mobil lain yang sering datang ketika hujan ke alun-alun Cilacap untuk menunggu kekasihnya pulang?

Tak perlu ada jawaban untuk sebuah kenangan yang pernah dilalui dan pernah dialami, kenangan adalah masa lalu yang akan menjadi pelajaran berharga guna memastikan untuk tidak salah melangkah dan salah pilihan dalam urusan percintaan.

(Baca Juga: Rindu yang Jatuh di Pantai Teluk Penyu)

.

Oleh: M. Aan Setiawan