September 29, 2022

Hobiku Berdosa

literaturcorner.com – Seringnya kita melakukan keburukan tanpa melihat seberapa dosa yang sudah kita peroleh. Semakin memperjelas bahwa kesetiaan kita pada perbuatan dosa semakin hari semakin meningkat saja. Dengan begitu, nanti semuanya akan menjadi tanggungan akhir.

Kita masih belum sadar bahwa keburukan atau kejelekan yang kita lakukan, nantinya akan berdampak buruk kepada diri kita sendiri (hukum alam). Setidaknya setelah kita  melakukan keburukan, maka cepat-cepatlah melakukan kebaikan, karena dengan begitu bisa menutupinya. Jadi ada point (- dan +). Karena keburukan sendiri sifatnya maksiat, sedangkan kebaikan sifatnya ta’at.

Ada beberapa keburukan dan kejelakan yang sudah kita lakukan selama sehari? Seberapa kebaikan yang sudah kita kerjakan dalam 24 jam terakhir? Solusi terakhir dengan menghapus kejelekan adalah dengan cara ‘bertaubat’. Meminimalisir dosa dan maksiat yang sudah kita perbuat, bisa kita lakukan dengan hal yang sejenis.

Artinya kalau seandainya kita  berbuat dosa dengan kaki untuk berjalan pada tempat yang dilarang oleh syariat agama, maka bisa kita lawan atau balas dengan berjalan menuju tempat ibadah. Mudah sekali, bukan? Tidak juga, semuanya tergantung pada hati dan nafsu.

Ada 3 hal pokok yang seharusnya kita kerjakan:

Taqwa (kapanpun, dimanapun dan bagaimanapun).

Kapanpun kita harus bertaqwa, dimanapun kita bertaqwa, dan bagaimapun itu, kita dituntut untuk bertaqwa. Makna taqwa sendiri ialah takut pada kepada allah berdasarkan kesadaran dengan mengerjakan segala perintahnya dan menjauhi laranganya. Dan semua itu bisa kita lakukan dengan tergantung pada kondisi hati kita sendiri, takut atau cinta. Berbicara tentang takut bisa kita terjemahkan kedalam dua hal yakni takut kehilangan surga dan takut masuk neraka.

Kalau melakukan dosa, segera diikuti dengan melakukan kebaikan.

Suka atau tidak suka, manusia akan jatuh juga pada keburukan, dan sangat mungkin akan jatuh. Artinya apa? Sebaik mungkin kita melakukan kebaikan pada seseroang pastinya juga ada jeleknya. Terkadang kita melakukan hal yang sudah menurut hati nurani kita benar. Tapi, masih saja menurut orang lain dianggapnya salah! Hmmm maha benar manusia.

Taubat sendiri syaratnya ada tiga.  Pertama getun (menyesal), kedua kapok (tidak akan mengulangi lagi), ketiga (meminta ampun). Ini semuanya yang berhubungan dengan Allah Swt. Sedangkan yang berhubungan dengan manusia ada satu lagi yakni Istihlal (minta halal), Allah tidak akan mengampuni kalau belum halal.

Kalau dosanya berhubungan dengan manusia~contoh saya berdosa pada seseorang, sebut saja namanya Yusuf. Saya ghibah pada Yusuf; membicarakan tentang Yusuf sesuatu yang tidak disukai~ Andaikan dia dengar ini baru namanya ghibah. Definisinya yang benar yakni membicarakan seseorang yang andaikan dia dengar maka dia merasa keberatan.

Hukum asalnya istihlal itu sendiri harus diceritakan. Artinya, yang dimintai halal itu harus jelas. Kalau kita dosanya ngomongin orang, yah harus kita ceritakan pada orangnya, “maaf kemarin saya habis mencuri uangmu,” misalnya. jadi harus diceritakan dan itu wajib hukumnya.

Tapi, kalau andaikan diceritakan yang mungkin akan menimbulkan kemarahan, maka tidak boleh diceritakan. Contohnya, “maaf, Suf. Kemarin pacar kamu habis saya selingkuhin.”

Ini kan biasanya kalau berbicara mengenai perasaan malah akan langsung timbul kemarahan. Maka boleh tidak perlu diceritakan, sebab akan timbul madharat yang lebih besar dari pada meminta maaf.

Berlakulah baik pada siapapun.

Yang ketiga, pergaulilah siapapun manusia itu dengan Akhlaq yang baik. Ukurannya apa? Yaitu memperlakukan orang sesuai dengan kesenangannya. Kalau tidak suka dicaci, maka tidak perlu mencaci orang. Kalau suka memuji yaaah pujilah orang. Dan kalau memperlakukan orang sesuaikanlah dengan yang ia sukai dan hindarkan sesuatu yang ia tidak sukai. Itulah akhlaq.

“Bukus satu, Pak”

“Jangan lupa pakai AKHLAQ.”

 

*Pengajian kitab Arba’in An-Nawawiyah, oleh Dr. Imam Bukhori, M.Pd

* Sumber; Hadits Arbain no.18

 

You may have missed