October 5, 2022

DIALOG NASIONAL “Peran Pemuda Dan Mahasiswa Dalam Mengawal Pesta Demokrasi pemilu 2019”

Jakarta– Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menggelar Dialog Nasional yang mengambil tema “Peran pemuda dan mahasiswa dalam mengawal pesta Demokrasi pemilu 2019”, dengan tujuan  mewujudkan demokrasi yang lebih sejahtera, aman dan damai dengan melibatkan peran Pemuda atau Mahasiswa sebagai penyambung lidah masyarakat dalam mengawal pemilu 2019, Selasa (17/9/2019), Di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Lantai 8.

Dalam penyataannya, Ketua Umum PMII DKI Jakarta Sahabat Daud Azhari menyampikan agenda ini sangat penting marilah kita jadikan dialog ini sebagai pelajaran  yang selalu mengedepankan persatuan. Demokrasi alatnya adalah pemilu dengan dukungan, bantuan sahabat-sahabat semua dalam mambantu suksesnya pesta demokrasi. PMII dengan tujuannya ‘Berkomitmen memperjuangkan bangsa Indonesia’. Secara tegas saya menolak #2019gantipresiden karena akan memecah belah masyarakat dan itu adalah musuh kami semua.

 Dalam dialog tersebut juga terlihat hadir Ketua Mabinda PMII DKI Jakarta Sahabat Sudarto juga menyampaikan peran aktif mahasiswa, saya kira program ini sangat tepat karena peran mahasiswa sangat dilibatkan dalam menghadapi pemilu 2019, karena penyambung lidah masyarakat yang masih mempunyai kejujuran dan idealisme dan sampai sekarang ini masih dipercaya oleh masyarakat.
“Disamping itu yang paling penting acara ini mestinya harus dijadikan ajang berdiskusi atau ajang bertukar pikiran,”tegas Sahabat Sudarto.

Dalam Dialog Nasioanl ini mengundang beberapa tokoh dan narasumber dari berbagai elemen masyarakat dan pakar di bidangnya masing-masing, antara lain Muhammad Jufri  selaku Ketua Bawaslu DKI Jakarta, Nurdin Muhammad (KPU), Titi Anggraini sebagai Direktur Eksekutif Perludem, dan Aliza Gunando (Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI), serta beberapa tokoh dan tamu undangan. Acara yang dimulai sekitar pukul 14:00 WIB ini berjalan dengan lacar, serta peserta dialog terlihat aktif memberikan tanggapan diskuinya.

Muhammad Jufri  selaku Ketua Bawaslu DKI Jakarta, menjelaskan pemilu sangat penting, kurang lebih 1.000 ada pemilih ganda, tapi tenang saja dari pihak KPU sudah memperbaikinya. Selain mengawasi tahapan-tahapan pemilu, bawaslu juga diberikan wewenang menerima laporan, kewenangan memeriksa. Dengan semangat itulah kami mengharapkan sahabat-sahabat mahasiswa bisa memberi laporan terkait  pelanggaran pemilu 2019. Proses kerja sama dengan mahasiswa bisa juga sebagai bentuk partisipasi pengawas TPS.

 Pembicara yang kedua ini adalah Nurdin Muhammad (KPU), juga mengutarakan kita sebagai mahasiswa harus mengawal betul pemilu 2019. Karena pemuda sebagai pemimpin masa depan. Pemilu sebagai alat dasar elemen demokrasi yang menjamin untuk kelancaran pemilu adalah warga indonesia apalagi kita sebagai mahasiswa. Pemilih yang cerdas dan pemilih yang tanggung jawab, bisa disebut pemilih milenial maupun emak-emak harus diberikan pendidikan pemilih yang cerdas. Perlu diketahui lagi bahwasanya mencoblos cuma memakan waktu kurang lebih cuma 2 menit, tapi berdampak pada 5 tahun kedepan. Makanya kita sebagai mahasiswa harus lebih cerdas dan semangat idealisme untuk membangun negara yang lebih baik.

“Bukan pesta demokrasi yang menjamurkan hoaks, maka dari itu pada tahun ini tema yang diusung KPU  adalah ‘Indonesia Anti Hoaks, Politik Anti Sara, Politik Anti Uang (Money Politik),’ 3 dasar itulah yang akan merusak pemilu kita nantinya,” Tambahnya.
Titi Anggraini selaku Direktur Eksekutif Perludem, memaparkan Indonesia sebagai kiblat belajar untuk demokrasi. Negara demokrasi terbesar 3 kalau dilihat dari segi populasi, Negara dengan  pemilu serentak 1 hari , dari hari yang sama, waktu yang sama, tempat yang sama dan itu terbesar  di Dunia mengalahkan India dan Amerika, kalau di India ada  kurang lebih 850 juta pemilih, tapi pemilunya tidak serentak jadi penghitungan suara lebih menguatkan alat elektronik mesin dan kurang lebih jangka waktu penghitungan suara akan memakan waktu hampir 26 hari,
“Anak muda bukan cuma sebagai alat suara, bahwa anak muda bukan sekedar lubung suara, bukan sekedar objek tapi aktor utama pemilu 2019. Harus mempunyai agenda setting sendiri, bukan malah disetting oleh pihak-pihak lain. Keterlibatan Mahasiswa mestinya melampaui seremoni, bukan cuma memilih suara, tapi mengawal pemilih suara. Karena Pemilih berdaulat, Negara akan kuat,”Sarannya.
Menurut Narasumber yang lain yakni  Aliza Gunando selaku Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI, Aktivis Kebangsaan dan juga Tokoh Muda Partai Golkar. Juga menyampaikan Hak kita apa sebagai mahasiswa?, jangan jadikan memilih itu cuma sebagai kewajiban tapi sebuah HAK. Yang kurang sampai sekarang nilai-nilai saat pemilu adalah sama sekali tidak ada Nilai Ketuhanan, kalau seandainya nilai tersebut kita jalankan pemilu akan lancar, akan kelar masalah bangsa ini. Makanya Sila -1 Pancasila  yakni Ketuhanan. Intinya pemilu adalah Hak bukanlah Kewajiban, kita sebagai peran pemuda sebagai sistem, harus berfikir besar untuk perbaikan dengan menjadi objeknya bukan subjeknya dalam artian kita harus menjadi pelaku aktif untuk menyukseskan pemilu 2019.
“Stop Alay, dan lanjutkan hidupmu dengan memperjuangkan bangsa, “pesan Aliza Gunando