October 5, 2022

Bermisal-misal

literaturcorner.com – Seorang yang bandel dan tak tahu malu disebut berurat badak. Kalau Anda mencla-mencle dan tak punya sikap tegas, Anda akan disebut orang bagaikan bunglon. Dan jika di kampung kita ada seorang rentenir yang mata duitan, ia akan disebut lintah darat. Seorang culas dan tak bisa pegang omongan, dianggap tak ubahnya seekor ular. Orang yang dhoif dan tak punya daya apa-apa, akan disebut seekor cacing. Dan jika Anda pelanga-pelongo tak tahu dunia di luar Anda, Anda akan dimisalkan seekor katak dalam tempurung. Sedangkan kalau jiwa Anda jiwa budak dan tak punya harga diri, orang akan mengibaratkan Anda ibarat kecoa. Dan kalau ada lelaki dan perempuan yang senantiasa gandengan kian-kemari, mereka disebut bagaikan sepasang merpati.

Sebaliknya, jika ada lelaki yang gemar banyak perempuan, ia disindir seekor ayam. Lain lagi sebutan seorang lelaki yang kawin dengan perempuan muda usia, orang akan memanggilnya bandot. Akan halnya wartawan yang muncul di tiap peristiwa apa saja, dia diibaratkan nyamuk. Dan jika Anda pengecut dan bersembunyi setiap ada risiko yang datang menimpa, orang akan mengibaratkan Anda burung onta. Sebaliknya, jika Anda meriah dan jadi tumpuan perhatian banyak orang, Anda dijuluki burung merak. Kalau Anda tidak punya arti banyak di lingkungan Anda, orang akan memanggil Anda kurcaci. Akan halnya seorang wanita yang pindah dari satu pelukan lelaki ke pelukan lelaki lain, ia akan disebut kupu-kupu.

Jika Anda suka keluyuran malam-malam dan istri Anda jengkel menunggu pintu, Anda akan dipanggil kalong oleh istri Anda itu. Begitu Anda ketangkap basah main gila, panggilan untuk Anda meningkat lagi menjadi bangsat. Dan bilamana istri Anda sudah kelewat jengkel, maka Anda akan disebut seekor tikus got malahan anjing. Sedangkan untuk istri yang ribut terus-terusan tanpa sebab-sebab yang jelas, sang suami akan menyebut istri model begituan burung parkit.

Daftar barisan panggilan ini masih bisa diperpanjang lagi. Misalnya, jika Anda koruptor besar yang tertangkap, orang akan memanggil Anda kakap. Jika Anda punya kualitas dan kelebihan apapun juga, orang akan menyebut Anda ikan cere. Dan jika Anda licin dan senantiasa bisa melepas diri dari tanggung jawab, orang akan menyebut Anda belut. Dan jika Anda teramat rakus, tetangga Anda akan menyindir Anda kucing garong.

Belakangan ini, wartawan yang kelewat hati-hati sehingga tidak jelas apa pendiriannya, dijuluki orang kepiting. Cepat mengeruk ke balik batu kalau saja ada sedikit bahaya. Buaya biasa digunakan untuk menggambarkan seorang yang sudah tidak ketolongan lagi jahatnya. Alap-alap biasa diibaratkan kepada seorang yang main sambar apa saja yang lewat di depan mata. Kunyuk diperuntukkan kepada orang yang sudah terlalu menjengkelkan. Babi diperuntukkan buat orang yang sudah rusak segala-galanya.

Sedangkan binatang-binatang seperti; onta, gajah, burung perkutut, ikan mas, capung, masih terbebas dari dunia bermisal-misal ini, sedikitnya sampai sekarang. Begitu juga, musang, sejauh dia berdiri sendiri. Begitu binatang itu berbulu ayam, ceritanya sudah lain, karena dijadikan contoh orang yang licik dan palsu.

Burung hantu tampaknya amat beruntung, karena merupakan lambag intelektual dan kesarjanaan, walau tak seorang pun tahu persis apakah burung itu memang pintar kecuali terus-menerus melotot tanpa maksud-maksud yang jelas. Yang biasa terdengar, seorang cerdik disebut seperti kancil. Apakah memang betul kancil itu binatang cerdik? Ini pun tidak pernah diperiksa secara tuntas, kecuali dipercaya anak-anak lewat dongeng sebelum tidur. Yang sudah pasti pintarnya adalah justru monyet simpanse atau anjing harder.

Tapi, kita tentu tidak bisa berkata kapada profesor kita bahwa Anda sungguh pintar sekali, tak ubahnya seekor simpanse, seorang yang kelewat dungu dimisalkan seekor keledai, atau kerbau. Orang Prancis mengibaratkannya dengan seekor angsa. Dan kalau orang yang bersangkutan sudah kelewat tololnya, ia disebut berotak udang. Tak seorang pun bisa beri penjelasan, mengapa udang nasibnya serendah itu, padahal belum tentu ia lebih tolol dibanding seekor kecoak.

Ada apa sebetulnya pada otak seekor udang? Bahwa udang galah atau Macrobrachium rosenbergii ini jantannya tukang kawin, itu memang benar. Dan bahwa udang galah itu suka keluyuran malam-malam, itu juga benar. Itu sebabnya ia digolongkan binatang noktunal. Dan jika rakusnya bukan main, ia pun betul juga. Udang galah melahap apa saja yang lewat di depan matanya. Karena rakusnya itu ia disebut binatang omnivora. Binatang renik, cacing-cacing kecil, habis ditelannya belaka. Perkara dia binatang tolol, belum tentu juga.

Yang sudah pasti, binatang yang dianggap tolol itu sekarang jadi harapan pemasukan devisa.

.

.

.

.

.

Penulis: Mahbub Djunadi dalam buku Asal-usul; catatan-catatan pilihan, 2018.