October 5, 2022

Belajar Memimpin Indonesia dari Para Pejuang Bangsa

literaturcorner.com – Indonesia merupakan negara dengan beragam suku, budaya, dan bahasa. Dari awal pembentukan negara Indonesia, para tokoh pendiri pun mengalami debat hebat karena belum menemukan sesuatu yang bisa menyatukan negeri yang beragam ini. Lalu, lahirlah Pancasila sebagai dasar dan penyatu dari semua perbedaan yang ada. Walaupun sempat ada pihak tertentu yang mempermasalahkan sila pertama. Pada akhirnya, Pancasila masih bisa bertahan hingga sekarang dengan membawa cita-cita awalnya, yakni menyatukan keragaman.

Lika-liku Pancasila tentu saja tidak akan tetap berjalan lurus. Selalu ada pihak yang menyerang Pancasila, mengatakan bahwa Pancasila adalah tagut dan tidak sesuai dengan ideologi bangsa Indonesia sebenarnya. Mereka bahkan memanfaatkan perbedaan Indonesia untuk mengadu domba agar Indonesia terpisah.

Melihat Pancasila sebagai amanah para pendiri bangsa, maka perlu pemimpin yang tidak hanya sekadar menjaga Ideologi bangsa, tapi memiliki karakter yang menjiwai Pancasila itu sendiri. Pancasila bukanlah emas atau permata yang perlu dijaga oleh satu orang atau kelompok lain, tapi harus terpatri dalam sanubari setiap warga negara Indonesia. Berkarakter Pancasila tentu saja harus ditanam sejak dini dan mempraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Pada umumnya karakter memiliki hubungan dengan sifat-sifat seseorang yang relatif tidak berubah. Hal itu adalah bentuk kepribadian yang dapat dilihat dari etika maupun moral seseorang.

Membangun dan memelihara karakter peminpin yang Pancasila tentu saja tidak mudah. Ada hal-hal yang bisa mempengaruhi karakter tersebut diantaranya adalah faktor lingkungan dan dan karakter itu sendiri. Faktor lingkungan sangat berpengaruh pada gaya kepemimpinan seseorang, cenderung melibatkan anggotanya ketika akan menghasilkan keputusan. Kemudian faktor karakter yang merupakan dasar yang menuntun pemikiran, sikap dan pilihan-pilihan yang akan diambil, diputuskan oleh seorang pemimpin.

Menurut Henry Pratt Faiechild dalam Kartini Kartono (1994: 33), pemimpin adalah seorang yang dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, mengarahkan, mengorganisir atau mengontrol usaha/upaya orang lain atau melalui prestise, kekuasaan dan posisi. Dalam pengertian yang terbatas, pemimpin ialah seorang yang membimbing, memimpin dengan bantuan kualitas-kualitas persuasifnya dan akseptansi/penerimaan secara sukarela oleh para pengikutnya.

Pemimpin tidak hanya memberi perintah dan anti-kritik dalam menjalankan kepemimpinannya. Satu hal yang perlu disadari oleh seorang pemimpin ialah menyadari betul bahwa ia adalah manusia biasa yang bisa salah dan bisa tersesat. Maka untuk menghindari pemerintahan yang otoriter, seorang pemimpin harus pro-kritik dan menelan segala caci dan makian oleh yang dipimpinnya. Dalam hal ini, benarlah apa yang dikatakan oleh tokoh pergerakan nasional, Agus Salim bahwa pemimpin itu ialah berani menderita dan miskin.

Indonesia perlu pemimpin tidak cukup hanya berkarakter Pancasila. Tapi dibutuhkan pemimpin yang jujur dan berani mengatakan yang benar adalah benar dan salah adalah salah meskipun itu pahit. Tidak berlindung di bawah ketek para bedebah kapitalis. Berani melawan mereka yang berniat merusak Indonesia baik Ideologi maupun kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Melawan oligarki yang punya niat keji. Para pemimpin harus tahu siapa yang mereka hadapi dan lawan. Membuat perencanaan yang matang dan bekerja sama dengan rakyat dan pihak tertentu yang satu visi.
Pancasila harus tetap menjadi prinsip seorang pemimpin Indonesia yang tidak cukup hingga tetes darah terkahir, Pancasila harus tetap ada sampai mati.

Seorang pemimpin juga perlu belajar dari sejarah bangsa Indonesia dan para tokoh pemberani yang berjuang habis-habisan mempertahankan ideologi Pancasila. Banyak hal yang bisa diteladani dari mereka yang telah mengubah sejarah bangsa Indonesia. Misalnya totalitas dalam perjuangan seperti yang ditunjukkan oleh Jenderal Soedirman, idealisme tinggi dan semangat perubahan seperti yang ada pada diri Soe Hok Gie maupun Chairil Anwar, ketekunan dan konsistensi dari H.B. Jassin, dan sebagainya. Bahkan dari mereka yang mendapat tempat yang kurang baik dalam sejarah bangsa seperti Abdul Qohhar Mudzakkar, Daud Beureuh, Kartosoewirjo, D.N. Aidit dan Tan Malaka, kita selalu bisa mendapatkan pelajaran berharga. Pemimpin Indonesia harus menjadikan mereka teladan dalam setiap tindakannya.