September 29, 2022

Be Pretend

literaturcorner.com – Mengutip perkataan Boy Candra dalam novel Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi.

Terkadang kita juga harus berpura-pura bahagai hanya untuk membuat orang lain senang dengannnya. Sebab kita mencintai dia.”

Bahwa hidup ini penuh dengan kejutan bukan malah penuh hujatan. “Bahagia bukan cuma untuk sesaat!,” ungkapnya. “Lantas untuk selamanya?” jawabku. Bukannya ‘selamanya’ itu sulit untuk bisa dijalani secara bersama-sama? Sebab mudahnya rasa bosan terlalu sering singgah di hati dan sering meneyelimuti kegelisahan dalam menentukan kenyamanan.

Dan aku sampai sekarang belum menemukan sesuatu yang bisa membuatku percaya, bahwa yang namanya bahagia adalah rasa yang cuma sementara. Artinya rasa penasaran yang hanya lewat saja, sering kita mengagumi hal baru yang kita lihat. Tapi, dengan berjalannya waktu semuanya akan sirna ditelan hal baru lagi yang muncul di hadapan kita. Dengan begitu apakah kau masih percaya dengan hal baru yang akan membuatmu bahagia?

“Yakinlah kamu pasti bisa menghilangkan rasa bosanmu itu jauh-jauh dari kenyataanmu,” sarannya. “Dengan cara apa aku bisa menuruti perkataanmu?”

1 ] Hadirkan hal yang baru

Kehadiran hal baru akan timbul jika kau akan mencarinya, dimana kau akan menemukan jati dirimu disana. Meskipun semua itu bukanlah hal yang mudah. Setidaknya kata ‘coba’ selalu menyapamu. Dan sekali lagi ingat! Hati-hati dengan hal baru, tidak semua sesuatu yang baru akan membawamu menjadi sebuah perubahan pada dirimu yang realistis dan nantinya bisa membawamu menjemput hal yang positif, dan bisa jadi sebaliknya.

2 ] Hindari “mudah kagum dengan hal baru.”

Timbulnya rasa ‘kagum’ karena adanya rasa ketertarikan kita pada hal tersebut, yang nantinya membuat kita semakin penasaran terus menerus. Dan Sudah menjadi sebuah realitas yang tidak bisa dibantah dengan kebohongan. Apa sebabnya? Terjadinya ‘pandangan pertama’. Kalau kita masih normal, kita pastinya mempunyai hasrat yang lebih dibandingkan orang yang tidak mempuyai akal ‘orang gila’.

Panca indra kita masih tajam melihat mana orang yang cantik atau tampan. Dan pada akhirnya timbul rasa kagum. Tapi, kau sungguh bodoh sekali menilai orang cantik cuma dengan pandangan pertama, coba lihat baik-baik kelopak matamu, kalau ada yang bermasalah secepatnya bawa ke Optik terdekat. Hmmm

“Cantik itu relatif,” yaahh memang semua pernyataan cowok benar tidak ada yang salah bagi dirinya yang ingin mengakui bahwa dirinyalah yang paling benar. Karena otak kita adalah mesin makna. Dan sebaiknya kita tidak perlu terlalu bernafsu membanding kecantikan seseorang hanya dengan pandangan pertama. Tapi, cukup dengan memperbanyak sholat istiqharah, semoga saja jodohmu cocok dengan sifatmu nanti. heheh

3 ] Selalu bersyukur dengan keadaaan saat itu.

Menghilangkan itu mudah kalau hanya sesaat, tapi kalau untuk terus-menerus itu tidaklah mudah. Begitu juga dengan jiwa kita yang mudah tergoyangkan dengan rasa syukur. Kadang-kadang bersyukur, terkadang juga tidak. Tapi, juga maklumin saja namanya manusiawi. Lantas, “Cara mengubah sifat tersebut gimana?” tanyanya. “Kamu hanya perlu orang di sampingmu yang bisa selalu memberimu nasihat, jikalau kamu melakukan kesalahan,” jawabnya. “Otomatis orang yang disampingku itu harus sepenuhnya baik dong?” tanyanya lagi. “Tidak sepenuhnya baik, emangnya orang itu manusia sempurna? Tidak, kan?

Setidaknya orang tersebut bisa mengingatkanmu semampunya dia. Kesalahan itu harus dilawan dengan kebenaran. Adanya kebenaran itu timbul dari rasa percaya diri,” jawabnya. Makanya sekarang banyak cowok yang istilahnya kurang baik ‘perlakuannya’ nantinya ingin mencari pendamping hidup yang berlawanan dari sifatnya; baik. Biar nanti kedepannya bisa membimbing, menuntun pada jalan yang keduanya inginkan yakni perubahan yang lebih baik. Lantas ada orang yang bilang kalau ‘jodoh kita adalah cerminan kita itu bagaiamana’ , weesss pikiren dewe. hmmmm

4 ] Jangan mudah terbawa suasana yang masih baru kamu kenali

Dalam artian kamu harus bisa memilih mana yang bisa membuatmu lebih nyaman, dan menyeleksi situasi yang lebih menguntung yang mana akan membawamu pada kesetian yang abadi.

Berbicara tentang “kesetiaan” tidak akan ada habisnya, dalam konteks saling memahami bukan saling membenci, saling perhatian bukan saling bertengkar. Hidup bukan masalah setia sampai akhir hayat, tetapi hidup ini mencari cara menggali solusi agar bisa mencapai kesetian itu dengan keseriusan bukan dengan omong kosong.

Tidak sedang berbicara dengan lidah tetapi dengan hatinya. Jawaban. Semua itu terletak pada dua sosok yang saling percaya satu sama lain.

(Baca: Tindakan yang Berdasarkan Kesadaran)

You may have missed